Banyak cara2 agar kita bisa mengakses internet secara gratis. Dibawah ini akan dijelaskan beberapa cara bagaimana kita bisa mendapatkan internet gratis. Ikuti dengan seksama ya…:p

  1. Pake koneksi kantor, kampus, atau sekolahan. Dijamin gratis. Wong yang bayar yang punya kantor. He3x…Atau main kerumah teman yg ada akses internetnya. Pura2 aja pinjem buat cek email atau cari bahan kuliah. Speak2 dikit pasti dikasih. Asalkan temenmu ga pelit :p

  2. Kalau anda punya laptop silakan manfaatkan hotspot yang gratis di lingkungan anda. Seperti di Kampus, Mall, warung makan, eh salah cafe, dll.

  3. Pakai hp yang digunakan sebagai modem juga bisa gratis kok. Caranya? baca terus tulisan ini. Asal ada niat pasti ada jalan. Bukan berarti ada niat mau gratisannya, tapi ada niat belajar supaya bisa gratis. He3x… Gimana caranya? Inilah yang akan aku bahas…Tapi Clue nya aja ya. Selanjutnya anda belajar sendiri. Wekekekek…

Tujuan utama dari tulisan ini adalah kebebasan dalam berinternet. Maunya sih Seperti diluar negeri gitu. Di negara lain internet sudah gratis, tapi di indonesia? Telkom berani gak ya kasih koneksi gratis. Minimal buat anak2 sekolah atau mahasiswa lah. Biar pada melek internet. Maka dari itu saya tertarik untuk belajar bagaimana mendapatkan koneksi gratis. Kita belajar sama-sama ya. Maaf Pak Operator Seluler, numpang gratis boleh gak? Boleh aja nak, asal bisa dan tidak ketahuan. he3x…

Dibawah ini adalah langkah-langkah untuk mendapatkan koneksi gratis..

  • Pelajari kemungkinan sebuah Operator Seluler bisa gratis apa ga. Jawabannya mungkin dong. GSM atau CDMA? Jawabannya bisa semua. Tetapi untuk yang pertama kali ada di Indonesia baik itu GSM atau CDMA biasanya sulit untuk ditembus. Wong security nya dari Iran, jadi susah ditembus. Tapi bukan tidak mungkin lho. Cuma susah aja. Makanya mendingan pake yang baru-baru aja. Sering2lah buka forum. Karena sebenarnya trik2 ini juga dibahas diforum2.

  • Pelajari beberapa hal tentang jaringan komputer seperti TCP/IP, Proxy, Open VPN, dll. Untuk HP pelajari tentang APN, IP, dan….sementara itu dulu kali ya. Coba konek internet pake settingan normal seperti pada tips lain di blog ini. Kalo konek secara normal udah bisa baru deh belajar cari gratisan.

Pada dasarnya cara agar bisa gratis (pulsa tidak kepotong) adalah mengutak-atik Bug :

  1. APN,IP, dan User name/password pada HP. Utk CDMA tidak perlu.

  2. Proxy+port pada web browser.

  3. Tambahan program2 yang lain, contoh : Your Freedom (setingannya banyak dijual oleh orang2 di internet), open VPN, dll. Biasanya setelah mengutak-atik pada nomor 1 dan 2, koneksi akan jalan tapi blm bisa buat browsing (tidak bisa buka situs) maka gunakan program2 ini.

Oke selanjutnya untuk clue saya kasih yang gampang dulu ya.

  1. Trik ini berlaku untuk salah satu kartu CDMA. Jangan aktifkan kartu waktu pertama kali beli. Langsung buat konek internet. Pakai settingan standar aja. Kalo dah bisa konek pasti dijamin gratis. Walaupun sering DC(Disconnect). lumayanlah 10-30 menit. Asal sinyal bagus/full biasanya jarang DC. Habis DC dial ulang dan gratis lagi.

  2. Trik ini untuk kartu CDMA yang lain. Pastikan pulsa minimal 5rb. Setelah itu konek ke internet. Trik ini cocok digunakan jika anda ingin browsing dalam jangka waktu yang lama. Karena setelah DC anda tidak bisa konek lagi. Terus dimana untungnya? Anda bayar koneksi 5rb, setelah itu gratis sepuasnya. Dengan catatan jangan sampai di DC. lumayan kan, 5rb sepuasnya?

  3. Trik ini untuk kartu CDMA yang lainnya lagi (emang ada berapa sih kartu CDMA?). Bug terletak pada proxy. Sebelum belajar dan mengerti apa itu proxy mendingan jangan coba yang ini. Pahami dulu apa itu proxy baru kemudian terapkan trik ini. cari proxy gratisan diinternet, googling sebentar kemudian masukkan di settingan web browser. Misal proxy vietnam ; 203.160.xxx.xxx:554. Ganti proxy sampai anda benar2 mendapatkan yang cepat dan gratis. Cari proxy yang bisa gratisan di google banyak sekali. Saking banyaknya kita jadi pusing mau pake yang mana. Contohnya : proxylist, proxyserverprivacy, aliveproxy. Tinggal kita cocokkan dengan kartu yang kita pakai. Trik inilah yang sering dijual orang di internet.

Untuk kartu GSM agak susah. Tapi masih bisa kok, semuanya tergantung usaha kita mencari bug nya. Untuk sementara anda pakai salah satu dari 3 kartu CDMA diatas untuk akses internet gratis sambil belajar untuk yang GSM. Coba gunakan program YF (Your Freedom), baca referensinya kemudian praktekkan. Jangan malas belajar untuk mendapatkan yang gratis (kata guruku dulu :p) dan jangan terima matengnya aja. Tingkat keberhasilan dapat diukur dari seberapa besarnya usaha kita masing-masing. Dan perlu diketahui, untuk benar-benar bisa mencari bug sendiri, kita perlu berkorban. Contohnya korban waktu untuk belajar, korban pulsa untuk coba2. Tapi setelah berhasil rasanya puas deh. Coba buktikan sendiri…

Lanjut. Untuk GSM coba utak-atik dibagian settingan IP dan APN di HP. Berkreasilah antara setingan GPRS dan MMS. Seringkali Operator bocor dibagian ini. Ingat jika kita mengubah APN di HP kita juga harus mengubah extra setting di bagian modem komputer(Baca tips). Usahakan bisa browsing di HP dahulu. Biasanya belum bisa di pakai buat browsing di komputer. Utak atik proxy di browser komputer. Lagi-lagi anda harus mengerti proxy. Bila belum bisa gunakan program Your Freedom atau Open VPN atau sejenisnya.

Sampai saat ini bug GSM yang berhasil aku ketahui ada 2 operator. Kemungkinan besar sih bisa semua. Tapi baru ini 2 yang ketemu. Aku kadang2 juga pakai, tapi lebih milih CDMA, karena lebih kenceng. He3x…Silakan dicari sendiri caranya dan mohon maaf tidak bisa dijelaskan secara jelas dan detail disini.

Alasan tidak dijelaskan semua disini:

  1. Biar anda belajar dan berusaha sendiri. Karena bagaimanapun juga suatu bug pasti akan ketahuan dan ditutup. Kalau anda sudah bisa cari sendiri, apabila suatu saat bug nya dibenahi kita bisa cari bug yang lain khan?

  2. Biar gratisan ini awet. Bukannya pelit ya. Tapi semakin detail di terangkan maka semakin cepat bug diperbaiki.

  3. Menghormati forum gratisan. Ada to? ya ada lah :p

Oke. Sekali lagi mohon maaf karena tidak bisa dijelaskan secara rinci. Yang pasti BISA. Selamat mencoba ya..eh 1 pesenku, kalo dah bisa dinikmati sendiri aja ya. Kalau mau kasih tau ke orang2 yang dipercaya aja. Dan jangan dijual deh, kualat nanti. Wong gratisan kok dijual :p…

Banyak cara2 agar kita bisa mengakses internet secara gratis. Dibawah ini akan dijelaskan beberapa cara bagaimana kita bisa mendapatkan internet gratis. Ikuti dengan seksama ya…:p

  1. Pake koneksi kantor, kampus, atau sekolahan. Dijamin gratis. Wong yang bayar yang punya kantor. He3x…Atau main kerumah teman yg ada akses internetnya. Pura2 aja pinjem buat cek email atau cari bahan kuliah. Speak2 dikit pasti dikasih. Asalkan temenmu ga pelit :p

  2. Kalau anda punya laptop silakan manfaatkan hotspot yang gratis di lingkungan anda. Seperti di Kampus, Mall, warung makan, eh salah cafe, dll.

  3. Pakai hp yang digunakan sebagai modem juga bisa gratis kok. Caranya? baca terus tulisan ini. Asal ada niat pasti ada jalan. Bukan berarti ada niat mau gratisannya, tapi ada niat belajar supaya bisa gratis. He3x… Gimana caranya? Inilah yang akan aku bahas…Tapi Clue nya aja ya. Selanjutnya anda belajar sendiri. Wekekekek…

Tujuan utama dari tulisan ini adalah kebebasan dalam berinternet. Maunya sih Seperti diluar negeri gitu. Di negara lain internet sudah gratis, tapi di indonesia? Telkom berani gak ya kasih koneksi gratis. Minimal buat anak2 sekolah atau mahasiswa lah. Biar pada melek internet. Maka dari itu saya tertarik untuk belajar bagaimana mendapatkan koneksi gratis. Kita belajar sama-sama ya. Maaf Pak Operator Seluler, numpang gratis boleh gak? Boleh aja nak, asal bisa dan tidak ketahuan. he3x…

Dibawah ini adalah langkah-langkah untuk mendapatkan koneksi gratis..

  • Pelajari kemungkinan sebuah Operator Seluler bisa gratis apa ga. Jawabannya mungkin dong. GSM atau CDMA? Jawabannya bisa semua. Tetapi untuk yang pertama kali ada di Indonesia baik itu GSM atau CDMA biasanya sulit untuk ditembus. Wong security nya dari Iran, jadi susah ditembus. Tapi bukan tidak mungkin lho. Cuma susah aja. Makanya mendingan pake yang baru-baru aja. Sering2lah buka forum. Karena sebenarnya trik2 ini juga dibahas diforum2.

  • Pelajari beberapa hal tentang jaringan komputer seperti TCP/IP, Proxy, Open VPN, dll. Untuk HP pelajari tentang APN, IP, dan….sementara itu dulu kali ya. Coba konek internet pake settingan normal seperti pada tips lain di blog ini. Kalo konek secara normal udah bisa baru deh belajar cari gratisan.

Pada dasarnya cara agar bisa gratis (pulsa tidak kepotong) adalah mengutak-atik Bug :

  1. APN,IP, dan User name/password pada HP. Utk CDMA tidak perlu.

  2. Proxy+port pada web browser.

  3. Tambahan program2 yang lain, contoh : Your Freedom (setingannya banyak dijual oleh orang2 di internet), open VPN, dll. Biasanya setelah mengutak-atik pada nomor 1 dan 2, koneksi akan jalan tapi blm bisa buat browsing (tidak bisa buka situs) maka gunakan program2 ini.

Oke selanjutnya untuk clue saya kasih yang gampang dulu ya.

  1. Trik ini berlaku untuk salah satu kartu CDMA. Jangan aktifkan kartu waktu pertama kali beli. Langsung buat konek internet. Pakai settingan standar aja. Kalo dah bisa konek pasti dijamin gratis. Walaupun sering DC(Disconnect). lumayanlah 10-30 menit. Asal sinyal bagus/full biasanya jarang DC. Habis DC dial ulang dan gratis lagi.

  2. Trik ini untuk kartu CDMA yang lain. Pastikan pulsa minimal 5rb. Setelah itu konek ke internet. Trik ini cocok digunakan jika anda ingin browsing dalam jangka waktu yang lama. Karena setelah DC anda tidak bisa konek lagi. Terus dimana untungnya? Anda bayar koneksi 5rb, setelah itu gratis sepuasnya. Dengan catatan jangan sampai di DC. lumayan kan, 5rb sepuasnya?

  3. Trik ini untuk kartu CDMA yang lainnya lagi (emang ada berapa sih kartu CDMA?). Bug terletak pada proxy. Sebelum belajar dan mengerti apa itu proxy mendingan jangan coba yang ini. Pahami dulu apa itu proxy baru kemudian terapkan trik ini. cari proxy gratisan diinternet, googling sebentar kemudian masukkan di settingan web browser. Misal proxy vietnam ; 203.160.xxx.xxx:554. Ganti proxy sampai anda benar2 mendapatkan yang cepat dan gratis. Cari proxy yang bisa gratisan di google banyak sekali. Saking banyaknya kita jadi pusing mau pake yang mana. Contohnya : proxylist, proxyserverprivacy, aliveproxy. Tinggal kita cocokkan dengan kartu yang kita pakai. Trik inilah yang sering dijual orang di internet.

Untuk kartu GSM agak susah. Tapi masih bisa kok, semuanya tergantung usaha kita mencari bug nya. Untuk sementara anda pakai salah satu dari 3 kartu CDMA diatas untuk akses internet gratis sambil belajar untuk yang GSM. Coba gunakan program YF (Your Freedom), baca referensinya kemudian praktekkan. Jangan malas belajar untuk mendapatkan yang gratis (kata guruku dulu :p) dan jangan terima matengnya aja. Tingkat keberhasilan dapat diukur dari seberapa besarnya usaha kita masing-masing. Dan perlu diketahui, untuk benar-benar bisa mencari bug sendiri, kita perlu berkorban. Contohnya korban waktu untuk belajar, korban pulsa untuk coba2. Tapi setelah berhasil rasanya puas deh. Coba buktikan sendiri…

Lanjut. Untuk GSM coba utak-atik dibagian settingan IP dan APN di HP. Berkreasilah antara setingan GPRS dan MMS. Seringkali Operator bocor dibagian ini. Ingat jika kita mengubah APN di HP kita juga harus mengubah extra setting di bagian modem komputer(Baca tips). Usahakan bisa browsing di HP dahulu. Biasanya belum bisa di pakai buat browsing di komputer. Utak atik proxy di browser komputer. Lagi-lagi anda harus mengerti proxy. Bila belum bisa gunakan program Your Freedom atau Open VPN atau sejenisnya.

Sampai saat ini bug GSM yang berhasil aku ketahui ada 2 operator. Kemungkinan besar sih bisa semua. Tapi baru ini 2 yang ketemu. Aku kadang2 juga pakai, tapi lebih milih CDMA, karena lebih kenceng. He3x…Silakan dicari sendiri caranya dan mohon maaf tidak bisa dijelaskan secara jelas dan detail disini.

Alasan tidak dijelaskan semua disini:

  1. Biar anda belajar dan berusaha sendiri. Karena bagaimanapun juga suatu bug pasti akan ketahuan dan ditutup. Kalau anda sudah bisa cari sendiri, apabila suatu saat bug nya dibenahi kita bisa cari bug yang lain khan?

  2. Biar gratisan ini awet. Bukannya pelit ya. Tapi semakin detail di terangkan maka semakin cepat bug diperbaiki.

  3. Menghormati forum gratisan. Ada to? ya ada lah :p

Oke. Sekali lagi mohon maaf karena tidak bisa dijelaskan secara rinci. Yang pasti BISA. Selamat mencoba ya..eh 1 pesenku, kalo dah bisa dinikmati sendiri aja ya. Kalau mau kasih tau ke orang2 yang dipercaya aja. Dan jangan dijual deh, kualat nanti. Wong gratisan kok dijual :p…

pengalian uang

Jumat, 2008 Januari 04

octopus klik emails get $ with e-gold

http://www.winnersgoldcasino.com

Are you tired of downloading complicated casino software filled with spyware? Don’t want to find out that you need to deposit $50-$100+ before you’re even allowed to play? If you answered ‘yes’ to one of these questions, then you’re in the right place! We at Winners Gold Casino provide only the best casino games with absolutely NO DOWNLOAD required to play! Our unique casino software is 100% Flash based, this means you can play all of our games using just your regular internet browser. You will be able to play all of our games just seconds after you sign up!

What’s even better about our casino is the amazingly low minimum of just 1 cent ($0.01 USD) to deposit and 5 cents ($0.05 USD) to withdraw your funds. Unlike other online casinos where you have to wait for hours to get your transactions approved, all transactions in our casino are made instantly. You will be able to play within seconds after your deposit. The same goes for receiving your funds – there’s absolutely no waiting time involved. (It won’t take longer than 2 minutes!)

————————————————————————————
getpaidmail.com

Launched March 26th 2002!
Get Paid to Read Emails
All Emails worth between 0.25 and 2 cent
Get Paid to Visit Sites + Paid Manualhits!
Earn up to $1 per Free Signup! More then $80 to earn with Free Offers!
Earn points for FREE advertising, optional.
No Activity needed To earn Referral Earnings! (Only click 1 link each 30 days to stay active)
International Members Welcome
No-Minimum Payout for Gold Members
Payouts Paypal within 10 Days!
2 Cent Per Direct Referral
6 Referral Levels
Level 1 = 15% – Level 2 = 10%
Level 3 = 5% – Level 4 = 3%
Level 5 = 2% – Level 6 = 1%
——————————————————————————–
http://www.vcpaid.com/register.php?r=octopus55121

Per click $ 0.003
Min Payout $ 0.05
e-gold
liberty
————————————————————————————-

Minimum payout at $0.02 for first 30 days of launch!
We do daily masspay!
$0.0025 to $0.01 link values
25,000 Banner impressions added to all purchases this week!
We launched February 7th, 2008

——————————————————————————-
no-minimum.com

• New Paid to Promote $0.65 per 1,000 Credits!
• Paid to Click
• Paid to Read e-mails
• Get Paid To Signup!
• No Minimum Payout on e-gold!
• Use our ManualSurf for more traffic!
• Low Payout for Paypal, alertpay (1.00 $)
• Play in our bubble game!
• 6 Referral levels: 5%, 4%, 3%, 2%, 1%, 1%

——————————————————————————–

* Membership is absolutely free. Cash-Clicks will never charge you any fees. International members accepted!
* Become a member and get paid to complete offers, surveys and freebies. Try out free products and trials to earn extra income from home.
* Refer new members and make even more money with our 2 level deep referral program.
* Earn $0.1 instantly once your referral has completed their very first offer.
* Simply visit websites and view sponsor advertisements to earn extra cash.
* Boost your earnings by winning a referral contest or paid to sign up contest.
* Get paid once a month via e-Gold ( $0.05 minimum) or PayPal ( $5.00 minimum).

————————————————————————————

http://bangthelinks.com

+ Confidence with our daily backups
+ Free membership
+ NO-MINIMUM PAYOUT to E-gold* / $0.50 minimum to PayPal
+ 10% of referral earnings
+ $0.40 cpm Paid-To-Promote page
+ Paid emails worth up to 1 cent!
+ Paid-To-Click links worth up to 1/2 cent!
+ Now with contest Paid-To-Click!!!
+ ManualSurf to earn more
+ ALL CASH, no points anymore!
+ Gold membership option (with lower Paypal cashout option!)
+ NO forced searches

———————————————————————————–

Earn more cash with Visiting websites at our Paid to Click!
* Earn 10% of your Referral Earnings Lifetime!
* No Activity Needed to Earn Referral Commissions!
* Easy to reach payout starting at 10 Cent only.
* Chance to win a Jackpot for joining offers!
* Upgraded memberships available starting at $3.99 with randomly Free Referrals and more!
* Up to 10% Discount on Advertising!
*Just Click Register at the Top of this page to Join JillsClickCorner!

———————————————————————————

No Minimum Payout

FREE Membership
No minimum E-gold Payout!
Low $1 LibertyReserve , Paypal and Alertpay Payout
Earn extra money playing games
High Rewarding USA/Search Country Signup Offers!
Earn Reading Our eMails
Get Paid for Clicking on ads
Get Paid for sign-ups
Complete tasks with the toolbar and earn money
Payouts through E-gold, LibertyReserve , Paypal and Alertpay
Payouts will be made weekly!
Earn extra money playing games
Get Paid To Promote $0.75 per 1,000 Credits!

————————————————————————————

@ Benefits of joining 5centminimum.com
:: Join us and start making money!
:: You’ll get paid to sign up for offers.
:: New signups are added on a weekly base.
:: PTC section added, so more money to earn
:: 1st level referrals – 10%
@ What 5centminimum.com expects from you:
:: You fill in real details in your member section and when you sign up for an offer
:: You are at least 16 years old
:: 1 account per household/ipaddress or your account will be deleted.
:: No use of proxy servers!!!!
:: You can only use one Egold or Paypaladdress, multiple users are deleted!!!
@ Advertising at 5centminimum.com:
@ Great advertising options
Signup starts at $ 0.65
You can approve the signups yourself
Advertising will be placed direct after payment. No waiting time!

———————————————————————————–

clicksalary.com

# Online Since Febuary 19, 2006
# Membership with this site is totally Free!
# No-Minimum Weekly Payout By PayPal and E-gold.
# Search ads and PTP ads are optin only.
# Points are used to Upgrade,Trade or Redeem Ads.
# 77c PTP for Upgraded Members (Silver, Gold, Platinum and Diamond only)
# 3 Referral levels of commission under you — 10%,5%,2%.
# No Activity Requirement to earn from downline.
# Cheaters will be DELETED with no exception.
# Get newest and most updated information.
# International Members are Welcome!

———————————————————————————–

MilkyWayClicks Membership!

* Earn More Cash by Visiting Websites at our Paid to Click!
* Earn 10% of Your Referral Earnings Lifetime!
* No Activity is Needed to Earn Referral Commissions!
* Fast and Easy Payout 10 Cent E-gold or $1 via Paypal or Alertpay.
* Upgraded Memberships available Starting at $3.99 with Randomly Free Referrals and More!
* Up to 10% Discount on Advertising!
*Just Click Register at the Top of this page to Join MilkyWayClicks!

———————————————————————————–
http://www.easy-ptr.com

:: Member Benefits ::
NEW > Paid To Promote !
Get Paid for Reading Your email
Get Paid for Clicking banners
Get Paid for Signup offers (more then $25 to earn)
Get Paid for Manual Surf-exchance !
Free Banner Exchance !!!
No-minimum Payout on E-gold !!
International Members are Welcome!
Bubblegame (with earnings!)
Lots of E-gold games.
4 Ref levels of commission under you
Level 1 -9%-Level 2 -6%-Level 3 -3%-Level 4 -1%

————————————————————————————
http://www.stockwe.com/?ref=octopus55121@yahoo.com

# FREE $1 for new member
# The only online virtual stock investment game to practise your investment skill
# Easy process and friendly interface
# Fully automate financial system to support instant deposit/withdraw of the fund based on e-gold online payment system
# “T+0″ trade and transaction rules
# Market is openning 24/7
# Refer your friends to the game and earn 0.2% of each transaction they made

———————————————————————————–
http://www.istocku.com

iStocku provides two levels of membership for users, Practice Player and Real Money Player.
New player are registered as Practice Player, who can
* Claim FREE $100 practice bonus
* Unlimited trade 24/7
* refer your friends to the game and earn 0.2% of every real money transaction they made for life time!
* Fully automate financial system to support instant withdraw of the fund based on e-gold online payment system
* Win a daily CASH bonus as top investors!
On making deposit, you upgrade to Real Money Player, who can
* Make real money by trading stock
* Unlimited trade 24/7
* refer your friends to the game and earn 0.2% of every real money transaction they made for life time!
* Fully automate financial system to support instant deposit/withdraw of the fund based on e-gold online payment system
* “T+0″ trade and transaction rules
———————————————————————————
http://firstgoldcasino.com

Welcome to the best online internet casino site! We are happy to invite you to enjoy some of the best gambling experience and the best casino games on the net. You are few clicks away from beginning to play online casino video slot games, online casino roulette games, online casino video poker games, online casino baccarat, online casino blackjack and online casino betting games.

First e-Gold Casino is an online casino accepting e-Gold, E-Bullion, Pecunix, LibertyReserve, 1mdc and WebMoney (WMZ, WME, WMR).

THE BEST CASINO GAMBLING

———————————————————————————-
http://www.worldwide-cash.net

:: Free Membership
:: Upgraded memberships available here
:: No Minimum payout on e-gold (0.01$)
:: Payouts on Weekends!
:: Get Paid To Read
:: Get Paid To Click
:: Get Paid To Signup
:: Get Paid To Promote $0.80 per 1,000 Credits!
:: Points can be Redeemed, Traded or Converted to Cash
:: 5 Referral Levels
[ 5% / 4% / 3% / 2% / 1% ]
———————————————————————————-

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

“Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua
mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan
Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah
Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan.
…”

Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi
pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai
Nil, Kairo.

Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan
disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti
mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan
kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di
televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah
menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa.
Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan
berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang
tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung
shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang
kacamatanya, lalu…

Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu’ala Rasulillah, amma ba’du.
Sebelumnya saya mohon ma’af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya
para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini
perkenankan saya bercerita…
Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan
cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya,
yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya,
mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil
hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah
lumpurnya.

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras,
melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan
kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.
Tiga puluh tahun yang lalu …
Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke
atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan “Pasha” yang terhormat
di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga
aristokrat terkemuka di Ma’adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan
Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit
politik di negeri ini.

Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam
suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup
sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga
besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau
kalangan high class yang sepadan!

Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya
merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan
keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih
merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah
yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini
ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan
tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang
yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap
memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.

Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu
mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan
selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri,
ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di
dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah
hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan
istana Raja Faruq.

Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali
saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar
lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau
menolak mentah-mentah.

“Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja” tegas ayah.

Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah
habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati,
saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.

Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh
pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan
kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung
hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan
kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi,
sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah
menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta
ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan.
Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka
datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami
ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.

Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada
keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan
saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan
kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian
serta tutur bahasanya yang halus.
Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya
beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas
yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak
boleh terjadi selamanya!

Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan
dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya
nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak
terkira.

Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku
sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang
cukur….tukang cukur, ya… sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan
bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati.
Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik
kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak
dilakukan para bangsawan “Pasha”. Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter,
seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak
mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri
sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa
pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu
langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500
ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil
seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak
direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina,
bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke
berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar?
Dengan enteng ayah menjawab. “Karena kamu memilih pasangan hidup dari
strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar
adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat
keluarga besar Al Ganzouri.”
Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah
saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat
sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang
jelas berzina justru difasilitasi.

Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup
saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan
bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain
menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini
kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan
penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan
beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata
illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui
penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan
putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih
keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah
dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan
ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak
karena alasan membela kehormatan.

Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya
kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri
penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor
ma’dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku.
Kami berikan identitas kami dan kami minta ma’dzun untuk melaksanakan akad
nikah kami secara syari’ah mengikuti mahzab imam Hanafi.
Ketika Ma’dzun menuntun saya, “Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima
nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita
sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah.”

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3
sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu.
Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata
Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan
kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.
Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami
membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu
mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan
segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa
apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang
sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar
ongkos akad nikah di kantor ma’dzun.

Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis
lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound,
tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!

Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di
jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada
puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara
campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca
bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa
berdaya dan hidup menjalari sukma kami.
“Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini.
Maafkan Kanda!”
“Tidak… Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah
berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa
menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil.
Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah.
Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini.
Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda
tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada
mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu
ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita
berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru.
Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita
saat ini,” jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.

Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa
optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi
teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan
sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan
dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di
emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam
kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin
kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa
uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.

Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50
pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang
murah.

Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali
bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya
berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan
perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.

Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil
menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi
kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah
untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan
mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika
seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai
mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang
membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan
uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk
3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami
pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah
kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan
satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu
saja… tak lebih.

Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap
bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan
melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia
adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia
merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.
Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan
cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan
gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika
percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari
semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling
nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat
Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak
menikmati indahnya wajah Allah SWT.

Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur’an dan
Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak
memperoleh segala cinta di surga.
Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus
mendekatkan diri kepada-Nya.

Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur’an, lalu memakai jilbab, dan tiada
putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi’ah Adawiyah
yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah
dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang
berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa
bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai
mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah
membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.

Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun
mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita
hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang
bilang tanpa disengaja,”Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua,
ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya.”
Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa
kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil
layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar
menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter
yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu
membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan
mereka.

Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami
terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil
sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan
mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor
dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala
perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu
juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka
robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu
mereka keluar dengan ancaman, “Kalian tak akan hidup tenang, karena berani
menentang Tuan Pasha.”

Yang mereka maksudkan dengan Tuan “Pasha” adalah ayah saya yang kala itu
pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua
berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu
kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang
berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang
sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja
dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur
kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah
sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup
tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang
skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna
susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini.
Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak
kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan
niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil
memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar
menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak
menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan
saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.

Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta
beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku.
Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun
marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan
segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun
penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak
ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan.
Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai.
Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan
isteri tercinta.

Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan
hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia
mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami.
Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah
SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada
kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam
itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia
tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang
penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia &
lepas dari belenggu derita:

Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana… di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku… besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung

Yah… saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa
dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia
ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program
Magister bersama!

“Gila… ide gila!!!” pikirku saat itu. Bagaimana tidak…ini adalah saat
paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai
dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak
berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar
Magister dan menjawab logika yang saya tolak:

“Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran
dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar
sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan.
Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk
sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita
wujudkan mimpi indah kita.”

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau
ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun
luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan
kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki
hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan
kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami
hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang
kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari
kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.

Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam
suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati
dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk
beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.

Siang hari, jangan tanya… kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu,
terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal
atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh,
menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis,
itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada
saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah,
tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.

Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya
hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan
yang kumuh dan makan ala kadarnya.

Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar
biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa
sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah
wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam.
Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan
mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan
senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua.
Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.

“Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang…” bisiknya mesra sambil
tersenyum.

Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.

Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar
Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami
belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih
hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak
dalam hidup kami.

Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami
berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk
pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal
hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali
tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di
Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah
memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang ‘edan’. Ia kembali
mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor
Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:

“Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui,
dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di
London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya
kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di
negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan.”

Kucium kening istriku, dan bismillah… kami berangkat ke London.
Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar
Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis
jantung.

Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru
di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai
direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar
di Universitas.

Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia
dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan
duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya
menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup
bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup
menderita, melarat dan sengsara.

Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt
dan bertambahlan rasa cinta kami.

Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin
sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini,
di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk
di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda
Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan
bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz…”

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok
perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan
itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda
Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan
segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.

Tak Cukup Hanya Cinta

“Sendirian aja dhek Lia? Masnya mana?”, sebuah pertanyaan tiba-tiba mengejutkan aku yang sedang mencari-cari sandal sepulang kajian tafsir Qur’an di Mesjid komplek perumahanku sore ini. Rupanya Mbak Artha tetangga satu blok yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia rajin datang ke majelis taklim di komplek ini bahkan beliaulah orang pertama yang aku kenal disini, Mbak Artha juga yang memperkenalkanku dengan majelis taklim khusus Ibu-ibu dikomplek ini. Hanya saja kesibukan kami masing-masing membuat kami jarang bertemu, hanya seminggu sekali saat ngaji seperti ini atau saat ada acara-acara di mesjid. Mungkin karena sama-sama perantau asal Jawa, kami jadi lebih cepat akrab.

“Kebetulan Mas Adi sedang dinas keluar kota mbak, Jadi Saya pergi sendiri”, jawabku sambil memakai sandal yang baru saja kutemukan diantara tumpukan sandal-sendal yang lain. “Seneng ya dhek bisa datang ke pengajian bareng suami, kadang mbak kepingin banget ditemenin Mas Bimo menghadiri majelis-majelis taklim”, raut muka Mbak Artha tampak sedikit berubah seperti orang yang kecewa. Dia mulai bersemangat bercerita, mungkin lebih tepatnya mengeluarkan uneg-uneg. Sebenarnya aku sedikit risih juga karena semua yang Mbak Artha ceritakan menyangkut kehidupan rumahtangganya bersama Mas Bimo. Tapi ndak papa aku dengerin aja, masak orang mau curhat kok dilarang, semoga saja aku bisa memetik pelajaran dari apa yang dituturkan Mbak Artha padaku. Aku dan Mas Adi kan menikah belum genap setahun, baru 10 bulan, jadi harus banyak belajar dari pengalaman pasangan lain yang sudah mengecap asam manis pernikahan termasuk Mbak Artha yang katanya sudah menikah dengan Mas Bimo hampir 6 tahun lamanya.

“Dhek Lia, ndak buru-buru kan? Ndak keberatan kalo kita ngobrol-ngobrol dulu”, tiba-tiba mbak Artha mengagetkanku. ” Nggak papa mbak, kebetulan saya juga lagi free nih, lagian kan kita dah lama nggak ngobrol-ngobrol”, jawabku sambil menuju salah satu bangku di halaman TPA yang masih satu komplek dengan Mesjid.

Dengan suara yang pelan namun tegas mbak Artha mulai bercerita. Tentang kehidupan rumah tangganya yang dilalui hampir 6 tahun bersama Mas Bimo yang smakin lama makin hambar dan kehilangan arah.

“Aku dan mas Bimo kenal sejak kuliah bahkan menjalani proses pacaran selama hampir 3 tahun sebelum memutuskan untuk menikah. Kami sama-sama berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dalam hal agama”, mbak Artha mulai bertutur. “Bahkan, boleh dibilang sangat longgar. Kami pun juga tidak termasuk mahasiswa yang agamis. Bahasa kerennya, kami adalah mahasiswa gaul, tapi cukup berprestasi. Walaupun demikian kami berusaha sebisa mungkin tidak meninggalkan sholat. Intinya ibadah-ibadah yang wajib pasti kami jalankan, ya mungkin sekedar gugur kewajiban saja. Mas Bimo orang yang sabar, pengertian, bisa ngemong dan yang penting dia begitu mencintaiku, Proses pacaran yang kami jalani mulai tidak sehat, banyak bisikan-bisikan syetan yang mengarah ke perbuatan zina. Nggak ada pilihan lain, aku dan mas Bimo harus segera menikah karena dorongan syahwat itu begitu besar. Berdasar inilah akhirnya aku menerima ajakan mas Bimo untuk menikah”.

“Mbak nggak minta petunjuk Alloh melalui shalat istikharah?”, tanyaku penasaran. “Itulah dhek, mungkin aku ini hamba yang sombong,untuk urusan besar seperti nikah ini aku sama sekali tidak melibatkan Alloh. Jadi kalo emang akhirnya menjadi seperti ini itu semua memang akibat perbuatanku sendiri”

“Pentingnya ilmu tentang pernikahan dan tujuan menikah menggapai sakinah dan mawaddah baru aku sadari setelah rajin mengikuti kajian-kajian guna meng upgrade diri. Sejujurnya aku akui, sama sekali tidak ada kreteria agama saat memilih mas Bimo dulu. Yang penting mas Bimo orang yang baik, udah mapan, sabar dan sangat mencintaiku. Soal agama, yang penting menjalankan sholat dan puasa itu sudah cukup. Toh nanti bisa dipelajari bersama-sama itu pikirku dulu. Lagian aku kan juga bukan akhwat dhek, aku Cuma wanita biasa, mana mungkin pasang target untuk mendapatkan ikhwan atau laki-laki yang pemahaman agamanya baik”, papar mbak Artha sambil tersenyum getir.

ingin selalu mencintai dan dicintai karena-Nya

I Love U SoMad

SUER.

Somad bukan cowok yang masuk itungan. Di kelas 2 IPS 3 nyaris nggak dianggap. Orangnya lugu. Potongan rambutnya seadanya. Jangan-jangan dia motong rambut sendiri lagi? Pokoknya out of date banget, deh!

Tapi anehnya kok ya aku nggak bisa menghilangkan bayangan Somad begitu aja. Aneh bin ajaib. Apa dia punya ilmu pelet sehingga aku jadi sering merhatiin dia?

Eh, tapinya terus terang aku merhatiin cowok lugu itu diam-diam, karena kalo sampai ketahuan wah, bisa gempar sekolah ini! Bahkan seluruh sekolah di selatan Jakarta ini.

Bayangin aja, aku kan pernah jadi finalis cogirl, terus pernah ikutan syuting sinetron, ya meskipun perannya nggak banyak tapi wajahku bisa dijadikan patokan kalo aku ini lumayan kece… bur got! Hehehe.

Tapi suer, makanya jangan heran kalo banyak anak cowok berkelas di sekolah ini yang ngejar-ngejar aku. Tapi ya itu tadi, kenapa aku malah sering-sering merhatiin Somad, seeh? Aneh!

***

SUMPE LUH!

Orang nggak percaya kali ya kalo aku nggak pengin pacaran dulu! Aku bahkan berani bersumpah nggak bakal pacaran selagi SMA! Makanya aku sama sohibku, yang namanya Ririn, jadi klop banget.

Tapi… ya itu tadi, sumpah anak ABG, boleh dibilang cuma jadi sumpah-sumpahan aja. Begitu juga dengan Ririn. Waktu kelas satu, menjelang naik-naikan kelas dua, ada anak cowok kelas tiga yang emang udah kesohor di sekolahan, namanya Jacko. Aslinya sih Joko Sutanto, tapi lama kelamaan berubah menjadi Jacko!

Si Jacko ini kalo dibandingin sama Somad kaya siang dan malam. Yang jelas Jacko ini anak orang kaya, ke sekolah boil-nya gonta-ganti. Emang, sih, kendaraan itu semua punya bokap-nya tapi paling nggak kan nanti-nantinya bakal nurun juga ke dia. Yang jelas semua cewek bertekuk lutut, deh!

Termasuk diriku yang sebelumnya pernah bersumpah nggak mau pacaran. Bahkan aku ama Ririn sepakat nggak bakalan kecantol ama si Jacko yang udah ketahuan sering jalan ama cewek-cewek, baik dari sekolah ini maupun dari sekolah lain!

Awalnya memang Ririn duluan yang luluh, ketika dia didekati Jacko dan katanya Jacko suka ama dia dan ujung-ujungnya Ririn pun nggak berkutik. Aku juga kaget.

“Jadi lo jadian ama dia?”

Ririn ngangguk. Waduh.

“Kok bisa?”

“Enggak tau, aku sebetulnya udah nolak, tapi dia mendesak terus dan akhirnya aku juga nggak bisa apa-apa…”

Ya, amplop!

Lama kelamaan aku juga suka merhatiin Jacko yang kalo dilihatin emang cakep, ibunya Jawa dan bokap-nya turunan Portugis. Jadi, biar Jawa tapi rada bule-bule gitu.

Eh, ini dia yang bikin runyem, karena tiba-tiba Jacko juga bilang suka sama aku.

“Eh, bukannya kamu sudah jadian sama Ririn?” tanyaku heran, tapi senang.

“Kayanya kami nggak cocok,” jawab Jacko, pendek.

“Tapi nggak bisa, aku nggak mau pacaran dulu…”

“Lho, kita nggak pacaran, cuma bersahabat aja kok. Kalo aku mau curhat ada yang mau dengerin, kalo aku mau jalan ada yang nemenin. Itu aja kok.”

“Eh, ya kalo begitu….”

Dan ternyata mereka bukannya nggak cocok lagi, tapi Jacko telah berhasil menduakan kami! Benar-benar brengsek! Bayangin aja, aku dan Ririn dijadiin ceweknya sekaligus!

Tentu saja hubunganku dengan Ririn jadi renggang. Karena entah kenapa, aku jadi berusaha untuk bisa menguasai Jacko sepenuhnya.

“Aku nggak mau kamu lepas dari diriku…,” kataku. “Dan aku nggak mau kamu curhat ke orang lain!”

Ternyata begitu juga dengan Ririn yang sudah jatuh cinta banget sama Jacko.

Hm, ternyata Jacko bagi kita berdua adalah first love, sedangkan bagi Jacko, nggak taulah…!

Dan malapetaka mulai terjadi ketika Jacko mulai kecantol cewek lain. Aku dan Ririn mulai jarang dapat perhatian lagi. Bahkan Ririn terkadang suka nekat melabrak Jacko, tapi itu tidak membuat Jacko kapok. Akibatnya Ririn jadi gampang frustasi.

Aku juga jadi lunglai.

Yang bikin aku kaget adalah ketika aku dengar Ririn katanya sudah pernah menginap di hotel barengan Jacko. Astagfirullah!

Dan ujung-ujungnya Ririn mulai mudah termenung. Aku sering memperhatikannya, dan besoknya aku dapat informasi lagi kalo Ririn sudah mulai merokok! Ya, Allah!

***

BENERAN!

Ririn sohibku yang baik. Aku tahu karakter dia. Kenapa dia bisa berubah seperti itu?

Aku berusaha gentle. Aku mendatangi Ririn yang sebelumnya sudah menutup buku denganku. Karena aku sudah mendengar berita Ririn sering bolos, aku dekati Ririn untuk memulai hari baru dan melupakan masa lalu bersama cowok brengsek itu.

Ririn membuka tangannya.”nanti gue tunggu di kantin.”

Aku kaget melihat Ririn menantiku sambil menghisap batang sigaret.

“Elo sekarang merokok, Rin?” tanyaku, terperangah.

Ririn tersenyum.

Seseorang membisikkanku di telinga, katanya Ririn juga sudah mulai mengonsumsi obat-obatan terlarang.

“Kenapa sih lo?” tanyaku betul-betul kaget.

“Gue kecewa?” kata Ririn sambil mengebulkan asap rokok dari mulutnya. “Dia ngebohongin gue!”

“Tapi kan dia ngebohongin gua juga? Bahkan mungkin telah menipu beberapa cewek lain!”

“Iya, gua tau, maka dari itu sebetulnya gue tuh kecewa bukan cuma ama dia aja, tapi ama semuanya! Ya, ama diri gue juga, kenapa kok udah tau cowok kayak begitu masih saja gue terima! Lo tau kan, kita udah sepakat nggak bakal melirik dia, eh malah kita berdua jadi korbannya! Akibatnya hubungan kita jadi berantakan, bahkan musuhan segala!”

“Iya, ya. Kenapa kita jadi bego begini?” aku geleng-geleng kepala.

“Terkadang yang sekarang gue pikirin cuma satu, gue pengin mati aja!”

“Eh, gila lo ye. Jangan gitu, dong! Lo harus tegar!”

“Gue malu. Maluuu banget! Gue pengin pindah sekolah, tapi nggak mungkin. Pasti nyokap gue nggak setuju dan dia bakalan tau kondisi anaknya yang udah menjadi kacau seperti ini!”

“Tenang Rin, lo harus tenang…!”

Sejak saat itu, kantin pojokan jadi tempat favorit buat kami berkeluh-kesah, dan gobloknya lagi, kok aku jadi ikut-ikutan merokok juga!

“Bisa buat ngusir stres, nih.”

“Masa, sih?”

“Coba aja.”

Kami mencari tempat paling pojok dan ngerokok di sana. Dan anehnya tempat itu jadi tempat berkumpulnya orang-orang frustasi. Malahan sebagian anak menjuluki beberapa anak yang suka berada di tempat itu sebagai korban Jack-gatte!

Yang jelas, benar kata pepatah yang mengatakan; kalo main api, kepanasan, kalo main air, kebasahan. Begitu juga kalo kita banyak ngobrol sama anak-anak nggak benar. Nggak usah nunggu lama, deh, yang namanya rokok, ganja, obat-obatan, shabu, putau, dan lainnya jadi nggak asing lagi. Begitu juga dengan kami berdua, yang tadinya cuma dengar-dengar aja, nggak tahu kenapa jadi enteng aja untuk mencoba itu semua!

Tiap pulang sekolah, kami berdua janjian untuk menikmati obat-obatan terlarang. Rumah Ririn sering kosong. Nyokap-nya yang single parent itu banyak bisnisnya.

“Eh, bener, stres jadi ilang!” kataku.

“Bukan cuma stres yang ilang, pikiran kita juga bisa ilang!” saut Ririn sambil nyengir.

Kami berdua memang sudah bisa melupakan Jacko yang handsome dan selalu ‘tepe’ (tebar pesona) itu. Tapi kok sekarang jadi nggak bisa ngelupain obat-obatan? Hampir tiap hari pasti ada aja yang nawarin ke kami.

“Mau nggak lo? Gratis, nih! Yang penting lo hepi gue hepi!”

Sampai kemudian Ririn sakit dan dibawa ke dokter oleh mamahnya. Dan mamanya marah banget begitu tau kalo anaknya jadi pecandu. Bahkan mamanya akan memindahkan Ririn ke sekolah lain dan mencap sekolah itu menjadi sekolah buruk!

Padahal sekolahan sih tetap baik, tapi anaknya aja yang lagi nggak benar. Dan lebih buruk lagi, adalah ketika Mama Ririn menuduhku sebagai biang keladi dari perubahan karakter Ririn! Aku kaget sekali, dan kaget lagi ketika Mama Ririn juga mengancam akan lapor pada polisi.

“Awas kalo kamu mendekati Ririn lagi!”

Duh, aku menjadi takut. Gimana kalo aku diperiksa, disuruh tes urin, terus ketahuan aku juga pernah mengonsumsi benda-benda terlarang, dan kemudian ditangkap di penjara? Hiiih, bulu kudukku berdiri!

Aku langsung bertekad untuk tidak lagi mengonsumsi barang-barang itu, tapi anehnya susah banget. Biarpun Ririn sudah nggak ada, aku masih saja dapat jatah dari beberapa anak kelas tiga yang memang suka menawarkan benda-benda itu di sekolah.

Sampai akhirnya Mama Ririn betul-betul memanggil pihak berwajib untuk memeriksa teman-teman dekat Ririn, dan aku yang kebetulan membawa satu sachet obat terlarang, sangat ketakutan.

Keringat dingin langsung keluar. Kebetulan Mama Ririn datang pas jam istirahat, sehingga aku bisa sembunyi di kamar mandi, lalu mengunci pintunya dari dalam.

Tadinya aku ingin membuang saja obat-obat itu ke dalam kloset, tapi aku merasa sayang dan akhirnya aku minum semuanya! Dan apa yang terjadi sodara-sodara, aku langsung OD (over dosis)! Aku pun terkapar dengan mulut berbusa di kamar mandi!

***

HONESTLY.

Pagi itu Somad seperti biasa datang pagi-pagi. Aku kebetulan memang sudah ada di situ. Dan biarpun dia langsung mengeluarkan buku catatannya dan menulis-nuliskan sesuatu, aku senang mencuri-curi pandang kepadanya, yach meskipun dia juga nggak membalas pandanganku …, aku sih cuek aja.

Jujur aja, kalo dilirik orang sih aku sering, tapi melirik orang jarang-jarang lho. Seperti sudah aku bilang, kepada Somad kok jadi lain? Tapi aku tetap nggak berani bilang ke siapa-siapa kalo aku sekarang mulai senang melempar lirikan ke Somad.

Ya, akhirnya aku memang suka sama Somad. Dia seperti batu karang di tengah lautan yang tidak terpengaruh oleh ombak besar. Dia tetap sama menjadi out of date diantara kemoderenan yang hadir menggelora di tengah-tengah sekolahku.

Dia tetap saja suka ke musala, mengerjakan salat, atau kemudian bikin acara-acara keagamaan meski seringkali diejek dan tidak diminati sama sekali. The Somad must go on!

Pernah dia bikin acara di tengah lapangan basket, tapi kelihatan yang sibuk cuma panitianya aja, yang datang juga mereka-mereka aja, tapi aku lihat Somad tetap semangat!

Beda waktu Jacko bikin acara musik, wah, satu lapangan penuh! Satu sekolahan ikut membantu! Dan anehnya Somad waktu itu, nggak terpengaruh, tuh! Dia terus saja ke musala! Diam-diam aku salut padanya.

Dan rasanya sikap seperti itu harus aku tiru biar aku juga punya ketegaran yang kuat!

Ada keinganku untuk bergaul dengan Somad, tapi anehnya kok ya nggak berani. Aku ingin bergaul dengan komunitasnya, tapi kok merasa malu? Apalagi sekarang, udah jelas nggak bisa!

Terkadang aku juga memperhatikan Jacko yang masih aja nggak berubah. Dia punya gank yang terdiri dari cowok dan cewek keren. Aku, meskipun pernah jadi pacarnya, nggak pernah disapanya lagi.

Aku dianggapnya sebagai lalat yang pernah hinggap di pundaknya yang dengan mudahnya ia usir begitu saja. Luar biasanya, kenapa bisa ada manusia seperti itu? Dan bodohnya lagi, kenapa aku juga mau menjadi seekor ‘lalat’?

Kini aku hanya bisa sendiri memperhatikan itu semua. Ririn sudah tidak ada lagi. Entah sekolah di mana dia sekarang. Tapi aku berharap dia sudah berubah, menjadi Ririn yang dulu lagi.

ALHAMDULILLAH.

Bel pulang berdentang. Anak-anak pun pulang.

Aku lihat Somad juga siap berkemas. Aku memperhatikannya sampai dia keluar pintu kelas.

Sekolah mulai sepi. Aku tetap sendiri di sini. Aku tidak bisa ke mana-mana, entahlah kenapa tempat itu menjadi melekat olehku. Aku dengar dia ingin mengumpulkan siswa yang sering ke musala untuk menyumbangkan sebuah doa … entah untuk siapa?

Tapi katanya untukku? Masa, sih? Mereka mau berdoa untukku? Oh, luar biasa, aku jadi semakin sayang sekali pada Somad. Sungguh, I Love You Somad, I Love You Su Much!

Aku janji, seandainya saja mereka mengetahui bahwa aku mulai sering memperhatikan Somad, aku tidak akan malu lagi, dan aku berharap bisa bergaul sama sahabat-sahabatnya, tapi sayang kini aku sudah…ah, aku tak kuasa … menceritakan ini semua pada kalian…

Yang teringat olehku hanyalah ketika terkapar di kamar mandi itu, aku melihat samar-samar pintu dibuka paksa, dan aku lihat Somad masuk, sementara aku melihat yang lain berteriak, berlari dan menjauh, sementara Somad berusaha menggotongku ke ruang UKS.

Somad berusaha menyadarkanku, tapi rupanya obat yang aku telan terlalu banyak dan akhirnya …. Oh, entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya pada diriku di alam kehidupan lain yang hingga kini masih gamang aku jalani….

Oh, Tuhan bisakah dosaku Kau maafkan?

Cinta Sepotong Mimpi

Dapatkah seseorang mencinta hanya karena sepotong mimpi? Mustahil. Namun, adikku semata wayang mengalaminya – setidaknya itu yang diakuinya.

Gadis yang dicintainya adalah Lala, adik sepupunya sendiri. Wajar, bukan? Bahkan, menjadi halal saat kedua orang tuaku kemudian berpikir untuk meminangnya.

Semua berawal dari penuturan Jamal. Ia bilang, ia memimpikan Lala sebagai gadis yang diperkenalkan Ibu kepadanya sebagai calon istrinya.

“Kami sudah saling mengenal, Bu,” kata Jamal dalam mimpi itu dengan malu-malu. Gadis itu pun mengangguk dengan senyum malu-malu pula.

Sebenarnya Jamal tidak terlalu meyakini gadis itu adalah Lala. Wajahnya samar terlihat. Namun, Jamal merasakan aura gadis itu cukuplah ia kenal. Hebatnya, ini diperkuat oleh ayah kami. Di malam yang sama, beliau bermimpi tentang Jamal yang duduk di kursi pelaminan bersama Lala! Apakah ini pertanda? Entah. Hanya saja, sejak itu aku merasakan pandangan Jamal terhadap Lala berubah.

Mereka sebenarnya teman bermain di waktu kecil, namun tak pernah bertemu lagi sejak remaja. Keluarga Lala tinggal jauh di Surabaya, sementara kami di Jakarta. Kami jarang berkumpul, bahkan saat lebaran, sehingga kenangan yang dimiliki Jamal tentang Lala adalah kenangan di masa kecil dulu sebagai abang yang kasih kepada adiknya. Kasih dimana sama sekali tak terpikirkan untuk memandang Lala sebagai gadis yang pantas dicintai, bahkan halal dinikahi. Namun, mimpi itu mampu menyulap semuanya menjadi…cinta (?).

Mari katakan aku terlalu cepat menyimpulkan sebagai cinta. Barangkali saja itu hanya pelangi yang tak kunjung sirna mengusik relung hati adikku. Pelangi yang mampu merubahnya menjadi sok melankolis hingga membuat kami sekeluarga khawatir melihat ia kerap termenung menatap kejauhan, untuk kemudian mendesah perlahan.

“Mungkin kau harus menemuinya di Surabaya,” kata Ibu.

”Rasanya tak usah, Bu. Masak hanya karena bunga tidur aku menemuinya,” jawab Jamal.

”Barangkali saja itu pertanda.”

”Bahwa Lala jodoh saya?”

”Bukan. Bahwa sudah lama kau tak mengunjungi mereka untuk bersilaturahmi. Biar nanti Mbakmu dan suaminya yang menemanimu kesana.”

Jamal tertegun sejenak untuk kemudian mengangguk.

Wah, pintar sekali Ibu membujuk. Padahal tanpa sepengetahuan adikku yang pendiam itu, Ibu menyerahi kami tugas untuk ”meminang” Lala. Ibu betul-betul yakin mimpi itu sebagai pertanda sehingga memintaku menanyakan kepada Lala tentang kemungkinan kesediaannya dipersunting Jamal.

”Kenapa tidak minta langsung saja pada Paklik? Biar mereka dijodohkan saja,” kataku waktu itu.

”Ah, adikmu itu takkan mau.”

”Tapi…”

”Sudahlah. Ibu tahu Jamal belum terlalu dewasa. Kuliah saja belum selesai. Tapi setidaknya ia memiliki penghasilan dari usaha sambilannya berdagang, ‘kan?”

“Bukan itu maksudku. Apa Ibu yakin Jamal mau dengan Lala? Barangkali saja mimpinya hanya romantisme sesaat.”

Ibu tercenung. Aku yakin Ibu belum memastikan ini. Yang beliau tahu hanya Jamal yang bertingkah aneh. Itu saja. Selebihnya ia perkirakan sendiri. Sepertinya justru Ibulah yang ngebet ingin meminang Lala.

”Kupercayakan semua itu padamu.”

Walah! Berarti tugasku berlipat-lipat! Selain memastikan kesediaan Lala, aku pun harus memastikan perasaan adikku sendiri.

***

Ia diam. Sudah kuduga reaksinya begitu jika kutanyakan tentang kemungkinan perjodohannya dengan Lala.

“Kamu mencintainya?” Aku mengganti pertanyaan. Kali ini Jamal malah terkekeh.

”Mungkin… Entahlah. Rasanya tak wajar.”

Tentu saja tak wajar! Bagiku, mencinta karena sepotong mimpi hanya omong kosong. Lagi pula Jamal tak tahu seperti apa wajah dan kepribadian Lala dewasa ini. Aku pun tak tahu.

“Santai saja, Mal. Tak usah dipikirkan. Yang penting kita tiba dulu di sana,” kata Bang Rohim, suamiku.

***

Setiba di Surabaya, kami disambut keluarga Lala hangat.

”Wah, iki Jamal tho? Oala, wis gedhe yo?!” ucap Bulik.

Jamal hanya tersenyum. Apalagi saat pipi gendutnya dijawil Bulik seperti saat ia kanak-kanak dulu.

”Mana Lala, Bulik?” tanyaku saat tak mendapati anak semata wayangnya itu.

”Ada di dapur. Sedang bikin wedhang.”

Aku segera ke dapur. Aku sungguh penasaran seperti apa Lala sekarang. Kulihat seorang gadis di sana. Subhanalah, cantiknya! Ia mencium tanganku. Hmm, santun pula. Cukup pantas untuk Jamal. Tapi, aku harus menahan diri. Kata Bang Rohim, butuh pendekatan persuasif untuk menjalankan misi ini. Aku tak yakin aku bisa sehingga menyerahkan sepenuhnya skenario kepadanya.

Tak banyak yang dilakukan Bang Rohim selain meminta Lala menjadi guide setiap kami bertiga pergi ke pusat kota. Ia melarangku membicarakan soal perjodohan, pernikahan, pinangan atau apapun istilahnya kepada Lala. Katanya, kendati kami keluarga dekat, sudah lama kami tidak saling bersua. Bisa saja Lala memandang kami sebagai ”orang asing”. Upaya melancong bersama ini demi untuk mengakrabkan kembali Jamal, Lala dan aku. Kiranya ini dapat memudahkanku saat mengutarakan maksud kedatangan kami sesungguhnya nanti.

Malam ini saat dimana aku diperbolehkan suamiku mengungkapkan semuanya kepada Lala. Seharusnya memang begitu. Tapi Jamal mendahuluiku. Tak kusangka ia serius dengan perasaannya. Ia utarakan semuanya. Tentang mimpinya, tentang jatuh cinta, bahkan tentang pinangan.

“Mungkin Dik Lala menganggap ini konyol. Abang juga merasa begitu. Tapi, setidaknya sekarang Abang yakin dengan perasaan Abang. Jadi, mau tidak kalau Lala Abang lamar?”

Bukan manusia kalau Lala tidak kaget ditembak seperti itu. Ia tampak galau. Seperti aku dulu. Sayang Lala tak merespon seperti aku merespon pinangan Bang Rohim dulu.

“Maaf, Mas. Aku terlanjur menganggapmu sebagai kakak. Rasanya sulit untuk merubahnya.”

Berakhirlah. Sampai di sini saja perjuangan kami di Surabaya. Jamal tersenyum mengerti, namun kuyakini hatinya kecewa. Cintanya yang magis tak berakhir manis. Kami pulang ke Jakarta dengan penolakan.

Sejak hari itu, Jamal tak terlihat lagi melankolis. Ia kembali sibuk dalam aktivitasnya. Adikku itu benar-benar hebat. Kendati patah hati, ia tak mau larut dalam perasaannya. Bahkan, belakangan aku tahu ia belum menyerah. Setidaknya penolakan itu berhasil mengakrabkan kembali Jamal dengan Lala. Mereka berdua kerap berkirim SMS sekedar menanyakan kabar ataupun saling bercerita. Jamal betul-betul memandang ini sebagai peluang untuk mengubah pandangan Lala terhadapnya.

Waktu kian berganti hingga masa dimana Jamal mengutarakan lagi keinginannya itu. Sayang ditolak lagi. Begitu berulang hingga tiga kali.

Ayah dan Ibu prihatin melihatnya. Mereka tak bisa berbuat banyak. Keinginan mereka untuk menjodohkan saja keduanya Jamal tolak.

”Syarat orang yang menjadi calon istriku, haruslah tulus ikhlas menjadi pendampingku. Atas kemauannya sendiri, bukan pihak lain!” Begitu alasannya selalu.

Terserahlah apa katanya. Tapi ini sudah menginjak tahun kelima Jamal memelihara cinta tak kesampaian ini. Usianya kian mendekati kepala tiga. Cukup mengherankan ia tetap memeliharanya terus. Rasanya tak layak cinta itu dipelihara terus. Ia harus diberangus. Lala bukanlah gadis terakhir yang hidup di dunia. Untuk itu Ibu, Ayah dan aku kongkalikong untuk membunuh cinta Jamal. Sudah saatnya ia mempertimbangkan gadis-gadis lain. Kebetulan ada yang mau. Pak Haji Abdullah sejak lama ingin bermenantukan Jamal dan menyandingkannya dengan Azisa, anak sulungnya. Kami susun perjodohan tanpa sepengetahuan Jamal. Lantas, kami sekeluarga berusaha ”menghasut” Jamal untuk memperhitungkan keberadaan Azisa, temannya sejak SMU itu.

Alhamdulillah berhasil. Hati Jamal mulai terbuka untuk Azisa sehingga saat Pak Haji Abdullah meminta dirinya menjadi menantu, ia tak punya lagi pilihan selain mengiyakan.

***

Kesediaan Jamal memang sudah didapat, namun anehnya ia tak kunjung juga menentukan tanggal pernikahan. Kali ini naluriku sebagai kakak turut bermain. Rasanya Jamal tengah menghadapi masalah yang tak dapat dibaginya kepada siapapun, termasuk Azisa. Saatnya aku menjadi kakak yang baik untuknya.

”Entahlah, Mbak. Rasanya aku tak siap untuk menikah.”

Mataku terbelalak saat Jamal mengutarakan penyebabnya.

”Apa pasal?” tanyaku agak jeri. Aku tak berani membayangkan jika Jamal tiba-tiba membatalkan perjodohan. Keluarga kami bisa menanggung malu!

”Rasanya Azisa bukan jodohku.”

Aku semakin terkesiap. Aku mulai menduga-duga arah pembicaraannya.

”Lala-kah?” tanyaku. Jamal mengangguk pelan, namun pasti.

”Sebenarnya mimpi tempo hari itu tak sekonyong datang. Aku memintanya kepada Tuhan. Aku meminta Dia memberikan petunjuk tentang jodohku kelak. Dan yang muncul ternyata Lala!”

Aku kembali terdiam. Aku benar-benar payah. Sudah setua ini, masih saja tak dapat menjadi kakak yang baik buat Jamal. Aku bingung harus menanggapi bagaimana.

”Maafkan jika selama ini Mbak tak bisa menjadi kakak yang baik, Mal. Bahkan untuk masalahmu satu ini pun Mbak tak bisa menjawab. Hanya saja, kita tak akan pernah benar-benar tahu apa yang kita yakini benar itu sebagai kebenaran, Mal. Termasuk mimpimu. Mbak tidak tahu lagi harus menganggapnya omong kosong ataukah benar-benar pertanda. Kalaulah mimpi itu pertanda, pasti banyak sekali maknanya.”

”Kamu memaknainya sebagai cinta dan jodoh, Ibu memaknainya sebagai silaturahmi dan Ayah memaknainya sebagai tipikal istri ideal bagimu. Bukankah Azisa pun tak berbeda jauh dengan Lala? Mimpi itu nisbi, Mal.”

Jamal hanya mendesah pelan sambil memandang kejauhan. Mukanya masam. Mungkin tak menghendaki aku bersikap tak mendukungnya.

”Mungkin,” lanjutku, ”ini hanya masalah cinta saja. Mungkin hatimu masih hidup dalam bayangan Lala dan tak pernah sekali pun memberi kesempatan untuk dimasuki Azisa. Kau hidup di kehidupan nyata, Mal. Sampai kapan akan menjadi pemimpi?!”

Aku tersentak oleh ucapanku sendiri. Tak kuduga akan mengucapkan ini. Bukan apa-apa. Beberapa waktu lalu kami mendengar kabar Lala menerima pinangan seseorang. Kendati menyerah, aku yakin Jamal masih memiliki cinta untuk Lala. Ia pasti sakit. Aku betul-betul kakak yang tak peka. Aku menyesal. Aku peluk Jamal, menangis sesal.

Jamal turut menangis. Isaknya berenergi kekesalan, kekecewaan, kesepian, keputus-asa-an, bahkan kesepian. Aku terenyuh. Betapa ia menderita selama ini.

“Besok kita batalkan saja perjodohan dengan Azisa, Mal. Itu lebih baik ketimbang kau tak ikhlas menjalaninya nanti. Itu katamu tentang pernikahan, ‘kan? Kita bicarakan dulu dengan Ayah dan Ibu.”

Kupikir ini yang terbaik. Tak bijak rasanya tetap berkeras melangsungkan perjodohan di saat Jamal rapuh begini. Di saat Jamal terluka dan bimbang pada perasaannya. Biarlah keluarga kami menanggung malu bersama.

“Tidak. Kita teruskan saja. Aku ikhlas menjalani sisa hidupku bersama Azisa. Mungkin aku hanya membutuhkan sedikit menangis saja. Aku pergi dulu ke rumah Pak Haji untuk membicarakan ini. Assalamu’alaikum.”

Kutatap kepergian Jamal dengan perasaan tak tentu. Kalau diingat semua ini terjadi karena mimpi. Ya, Allah apakah benar mimpi itu pertanda-Mu? Jikalau benar kenapa sulit sekali terrealisasi? Jika pun tidak benar kenapa banyak orang mempercayai?

Aku terpekur. Maafkan aku adikku. Aku hanyalah insan, yang tak mampu menerjemahkan segala misteri-Nya, bahkan yang tersurat sekalipun. Aku hanya berusaha. Dia tetap yang menentukan. Maafkan aku.

Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana

Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.

Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”

Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.

Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.

Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.

Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.

Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.

Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.

”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.

”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.

Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.

Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.

Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.

”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.

Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.

Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.

Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.

”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.

Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?

Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?

Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.

Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.

Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.

Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Lewat kata yang tak sempat disampaikan

Awan kepada air yang menjadikannya tiada

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *

Free Domain .tk

<img src=”http://www.dot.tk/images.v2/dottk_logo.gif”><br><br>Ini satu lagi ada domain gratis yang sudah lama, tapi belum kami tulis,<br>Dot.tk sudah lama mengeluarkan service domain gratis, tapi yang mengecewakan<br>sekarang ada banner iklan nya…<br><br>Alamat url nya: http://www.dot.tk<br><br>Nanti alamat url anda : http://www.terserah-kamu.tk<br><br>Sekian den terimakasih :) <br><a href=”http://www.promobersama.com/” target=”_blank”>iklan baris</a><br><br />Sumber dari situs <a href=”http://www.ilmuwebsite.com”>php</a> dengan judul <a href=”http://www.ilmuwebsite.com/detil_domain_registration/5/Free_Domain_.tk/”>Free Domain .tk</a>

Wanita dalam Islam sebenarnya

Wanita dalam Islam sebenarnya
(seperti di dalam al-Qur’an)

 

Kedudukan kaum wanita dalam masyarakat Islam agak menyedihkan. Mereka dipersendakan pada sesetengah majlis syarahan agama, dikenakan beberapa peraturan yang ketat, atau disifatkan lebih rendah daripada kaum lelaki. Mereka menjadi mangsa keganasan lelaki, mangsa dalam perceraian, mangsa yang digantung tidak bertali, atau mangsa yang sanggup membuang bayi yang dilahirkannya dengan banyak kepayahan. Kemelut ini berpunca dari kejahilan yang terbit dari input yang tidak sempurna dalam didikan agama. Input yang dimaksudkan ialah ajaran daripada Allah yang terkandung di dalam al-Qur’an.

Kertas ini bertujuan untuk menyampaikan mesej yang banyak daripada Allah mengenai kaum wanita; lantas ia menjadi agak panjang. Di sini mungkin terdapat ayat-ayat Allah yang tidak pernah didengarkan oleh orang-orang yang bertanggungjawab. Semoga dengan munculnya ajaran Islam yang sebenar, iaitu daripada al-Qur’an, maka lenyaplah amalan palsu mengenai kaum wanita yang sedang diamal oleh sebahagian besar masyarakat Islam.

Ciptaan

Perempuan yang pertama dicipta Allah ialah isteri Adam. Dia dicipta untuk menjadi pasangan bagi Adam, atas kehendak Allah sendiri, Yang mencipta semuanya berpasangan (43:12). Daripada Adam dan isterinya, lahirlah kaum lelaki dan perempuan yang berkembang biak, dan pada hari ini mereka berjumlah kira-kira 5.7 bilion kesemuanya. Mereka dicipta agar takut kepada-Nya. Firman-Nya, “Wahai manusia, takutilah Pemelihara (Tuhan) kamu Yang mencipta kamu daripada jiwa yang satu, dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya (isterinya), dan daripada keduanya, ditaburkan di merata-rata banyak lelaki dan perempuan” (Ayat pertama, Surah ke 4, berjudul “Perempuan”; atau lazimnya ditulis seperti 4:1).

Pengasihan

Antara lelaki dan perempuan, Allah mengadakan pertalian persahabatan (9:71). Namun, yang paling manis sekali yang diadakan-Nya pada mereka ialah perasaan cinta dan pengasihan, seperti kata-Nya yang berbunyi “Dia mengadakan di antara kamu, cinta dan pengasihan” (30:21). Perasaan cinta dan pengasihan ini selanjutnya mengikat kedua-dua jantina ini dalam ikatan perkahwinan agar mereka dapat hidup bersama, dengan halal, dan bersatu dalam kebahagiaan.

Perkahwinan, yang disuruh Allah, adalah lawan bagi amalan zina. Ini disimpulkan setelah diperhati tiap-tiap ayat al-Qur’an yang mengandungi kata ikatan perkahwinan, di mana kata ini sentiasa dituruti kata lawannya, iaitu perzinaan. Sebagai contoh ialah ayat yang berbunyi “Maka kahwinilah mereka dengan izin keluarga mereka …. sebagai wanita-wanita dalam ikatan perkahwinan, bukan dalam perzinaan” (4:25).

Zina

Amalan zina adalah bukan sahaja dilarang, malah, ia dilarang daripada mendekatinya jua. Firman-Nya, “Dan janganlah mendekati zina; sesungguhnya ia satu kesumbangan, dan jalan yang jahat” (17:32). Lupakanlah sahaja keinginan untuk melakukan zina!

Amalan sumbang dan jahat ini bukan suatu fenomena yang baharu dalam masyarakat. Pengamalannya yang meluas adalah sejak dari zaman dahulu lagi, seperti pada zaman Nabi Yahya dan Mariam (ibu Nabi Isa), iaitu kira-kira dua ribu tahun dahulu. Andaian dibuat setelah mendapati Allah menyebut dengan jelas kepada bapa Nabi Yahya (Zakaria) bahawa anaknya yang bakal dilahirkan adalah seorang yang suci daripada kejahatan nafsu berahi (3:39), sementara Mariam pula, disebut sebagai seorang perempuan yang menjaga kemaluannya (21:91 dan 66:12). Mereka berdua tentu telah menjadi contoh teladan yang terbaik pada zaman itu.

Zina bukanlah amalan orang-orang lelaki dan perempuan yang mukmin (yang mempercayai Allah dan Kitab-Nya), kerana mereka diperintah supaya menjaga kemaluan mereka. Firman-Nya, “Katakanlah kepada orang-orang mukmin supaya mereka menundukkan pandangan mereka, dan menjaga kemaluan mereka” (24:30). Pandangan yang tidak dikawal dan kemaluan yang tidak dijaga adalah punca berlakunya perzinaan.

Lelaki dan perempuan yang berzina, setelah sabit kesalahan, iaitu keterangan empat saksi, dihukum dengan seratus sebatan tiap-tiap seorang (24:2). Sekirannya bilangan seratus ini dikatakan hudud (had-had) Allah, maka pada hemat saya, bilangannya adalah had maksimum. Pelaksanaannya pula, menurut ayat itu lagi, hanya disaksikan oleh segolongan orang mukmin, bukan disaksikan oleh orang ramai seperti terdapat pada amalan sesetengah masyarakat Islam di dunia.

Penuduh ke atas perempuan yang berkahwin dan tidak mendatangkan empat saksi, dikenakan lapan puluh sebatan pula, dan kesaksiannya tidak lagi diterima selama-lamanya. Cakapnya tidak dipercayai lagi. (24:4)

Hukuman ke atas penzina adalah tidak seberat hukuman yang dikenakan ke atas pencuri. Pencuri lelaki dan pencuri perempuan dihukum dengan memotong tangan-tangan mereka (5:38). Itu pun juga, pada hemat saya, adalah had maksimumnya.

Tanpa bapa

Hukuman adalah hanya ke atas penzina, tidak pada anak-anak yang mereka lahirkan. Hukuman yang dikenakan ke atas anak-anak mereka berupa istilah, seperti anak luar nikah, atau anak haram, yang lazim digunakan. Sebaliknya pula, kata-kata ini tidak seharusnya menjadi sebutan orang-orang Islam, kerana ia tidak disebut, atau tidak diajar oleh Allah di dalam kitab-Nya, al-Qur’an. Justeru, anak-anak yang tidak berdosa itu sewajarnyalah tidak dizalimi dengan cercaan seperti ini.

Kezaliman pada anak-anak ini ditambah lagi apabila wujud undang-undang yang menyuruh mengosongkan tempat bagi nama bapa-bapa mereka (dan butiran lain mengenainya) pada sijil pengakuan kelahiran mereka, atau surat beranak. Walhal, surat beranak adalah suatu dokumen yang merekodkan kelahiran bayi, dan mereka pula, seperti bayi-bayi lain, tidak seperti Nabi Isa yang dilahir tanpa bapa!

Dengan tidak mencatat nama bapa, dan butiran lain mengenainya, pada surat beranak anaknya, kelihatan pula seperti dapat melepaskan kaum lelaki (yang sama-sama terlibat dalam kejahatan) daripada tanggungjawab mereka, dan selanjutnya memungkinkan mereka untuk berterusan dalam dosa zina dengan perempuan-perempuan lain.

Anak angkat

Bagi kanak-kanak, menurut al-Qur’an, seharusnya diketahui siapa bapa-bapa mereka, kerana sekiranya mereka dijadikan anak-anak angkat, maka mereka hendaklah dibinkan menurut nama bapa-bapa mereka yang sebenar. Firman-Nya, “Dan tidak juga Dia membuatkan anak-anak angkat kamu sebenarnya anak-anak kamu … Panggillah mereka mengikut bapa-bapa mereka yang sebenar; itu lebih adil di sisi Allah. Jika kamu tidak mengetahui siapa bapa-bapa mereka, maka mereka adalah saudara-saudara kamu dalam agama, dan peliharaan” (33:4-5).

Hukum

Malang menimpa lagi pada kanak-kanak yang lahir daripada perzinaan, kerana wujud pula dalam ajaran “Islam” suatu hukum yang menetapkan mereka (yang perempuan) boleh membatalkan air sembahyang bapa-bapa mereka dengan hanya menyentuh kulit mereka. Kedudukan mereka sama dengan perempuan lain yang halal berkahwin dengan bapa mereka.

Kesopanan

Perzinaan tidak berlaku sekiranya kesopanan dijagai, dan Allah ditakuti. Kesopanan bagi lelaki dan perempuan semasa mereka berinteraksi sebagai sahabat telah disebut, iaitu mereka diperintah supaya mengawal pandangan dan menjaga kemaluan mereka. Akan tetapi, bagi kaum wanita (kerana kewanitaannya) ditambah lagi dan tambahannya adalah seperti yang tersurat di dalam sebuah ayat yang panjang berbunyi,

“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin, supaya mereka menundukkan pandangan mereka, dan menjaga kemaluan mereka, dan tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang nampak daripadanya;

Dan hendaklah mereka meletakkan penudung (mantel) mereka pada dada mereka, dan tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, atau bapa mereka, atau bapa suami mereka, atau anak lelaki mereka, atau anak lelaki suami mereka, atau saudara lelaki mereka, atau anak lelaki saudara lelaki mereka, atau anak lelaki saudara perempuan mereka, atau perempuan mereka, atau apa yang tangan kanan mereka memiliki (hamba daripada rampasan perang),

Atau lelaki yang melayan mereka yang tanpa mempunyai keinginan seks, atau kanak-kanak kecil yang belum mengerti aurat (bahagian-bahagian sulit) perempuan” (24:31).

Ayat ini menggesa kaum wanita supaya tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada orang-orang yang rapat seperti yang telah disebut. Kata perhiasan selalu dituju kepada barang-barang kemas. Akan tetapi perhiasan perempuan di sini bermaksud bahagian anggotanya yang di dada, yang digesa supaya ditutup dengan penudung. Penudung, atau kata Arabnya di situ, khumur, adalah bukan tudung kepala perempuan. Dalam bahasa Inggeris ia adalah veil yang juga tidak bermaksud tudung kepala perempuan. Lazimnya tudung kepala perempuan dikaitkan dengan jilbab (33:59), juga diterjemah kepada ‘penudung’, yang bermaksud “pakaian luar; gaun panjang yang menutupi seluruh badan, atau mantel yang menutupi leher dan payudara” [The Holy Qur'an, Abdullah Yusuf Ali (1946), halaman 1126, nota kaki 3765]. Ia bukan tudung kepala.

Maka, pakaian wanita haruslah labuh dan menutup bahagian dada mereka. Atau dada ditutup dengan sehelai kain lain yang dipanggil khumur.

(Tudung kepada yang kini dipakai oleh kaum wanita adalah ‘mandil’ dalam bahasa Arab. Ia bermaksud kerchief; handkerchief; head kerchief, dalam bahasa Inggeris. Tetapi ia tidak terdapat di dalam al-Qur’an.)

Tudung Kepala

Apa yang dikatakan perhiasan itu tidak termasuk bahagian-bahagian anggota di kepala seperti rambut, mata, mulut, hidung, telinga, dan pipi wanita. Andaikata bahagian-bahagian anggota wanita ini wajib ditutup, dengan tudung kepala supaya tidak dilihat oleh lelaki (seperti yang diwajibkan dalam ajaran agama ulama palsu), maka kaum lelaki pun patut menutup bahagian-bahagian tersebut kerana kaum wanita juga boleh berkeinginan pada lelaki dengan hanya melihat bahagian-bahagian tersebut. Kemungkinan ini dibayangkan Allah di dalam al-Qur’an dengan sebuah cerita mengenai Nabi Yusuf yang digoda oleh wanita-wanita, termasuk isteri pembesar, kerana dia kelihatan begitu menawan (iaitu daripada bahagian-bahagian anggotanya yang dapat dilihat).

Perhiasan wanita boleh bermaksud payudaranya. Payudara perempuan yang lanjut usia pun tidak seharusnya dinampakkan seperti perempuan lain. Firman-Nya, “Bagi perempuan-perempuan yang melewati umur mengandung, dan tiada harapan untuk berkahwin, tidak ada kesalahan ke atas mereka untuk menanggalkan pakaian mereka, tanpa menunjuk-nunjukkan perhiasan; tetapi jika mereka menahan, adalah lebih baik bagi mereka” (24:60).

Malah, dalam sebuah ayat yang terdahulu di dalam al-Quran, mengenai pakaian manusia, Allah menyatakan bahawa Dia telah menurunkan “pakaian untuk menutupi bahagian-bahagian aib” (7:26). Tentu sekali maksud kata bahagian aib itu tidak termasuk bahagian-bahagian di kepala wanita, mahupun lelaki.

Dengan adanya beberapa petunjuk daripada al-Qur’an, maka Islam yang sebenar tidak mewajibkan wanita bertudung kepala.

Kata aurat yang turut disebut di dalam ayat yang panjang tadi (24:31) bermaksud bahagian-bahagian sulit, yang orang-orang berkeinginan seks meminati, tetapi tidak dimengertikan oleh kanak-kanak kecil. Kata ini memang sudah disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu dalam Islam. (Sila rujuk Kalimat aurat di dalam al-Qur’an.)

Lesbian

Selain zina, seseorang wanita itu boleh melakukan kesumbangan akibat nafsu berahinya pada yang sejantina dengannya. Bagi kesalahan ini, pesalah dikurung, yang ada kalanya sampai mati. Firman-Nya, “Dan perempuan-perempuan kamu yang melakukan kesumbangan, panggillah empat di antara kamu untuk menyaksikan terhadap mereka; dan jika mereka menyaksikan, tahanlah mereka di dalam rumah-rumah mereka sehingga kematian mematikan mereka, atau Allah mengadakan bagi mereka satu jalan” (4:15).

Hukuman bagi lesbian adalah tidak sama dengan hukuman yang dijatuhkan ke atas penzina.

Sama

Beralih kepada soal sama ada lelaki dan perempuan itu sama. Sebenarnya, mereka adalah sama di sisi Allah. Kesamaan mereka adalah pada:

1. usaha untuk mencari pemberian daripada Allah. Firman-Nya, “Bagi orang lelaki, sebahagian daripada apa yang mereka mengusahakan, dan bagi orang perempuan, sebahagian daripada apa yang mereka mengusahakan. Dan mintalah kepada Allah pemberian-Nya” (4:32).

2. keimanan dan ganjaran daripada Allah. Firman-Nya, “Lelaki yang muslim dan perempuan yang muslim, dan lelaki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, dan lelaki yang patuh dan perempuan yang patuh, dan lelaki yang benar dan perempuan yang benar, dan lelaki yang sabar dan perempuan yang sabar, dan lelaki yang merendah hati dan perempuan yang merendah hati, dan lelaki yang bersedekah dan perempuan yang bersedekah, dan lelaki yang berpuasa dan perempuan yang berpuasa, dan lelaki yang menjaga kemaluan mereka dan perempuan yang menjaga, dan lelaki yang mengingat Allah dengan banyak dan perempuan yang mengingat – bagi mereka, Allah menyediakan keampunan dan upah yang besar” (33:35).

Pendek kata, seperti kata Allah juga, “Sesiapa membuat kerja-kerja kebaikan, lelaki atau perempuan, dan dia seorang mukmin, mereka akan masuk Taman (syurga), dan tidak dizalimi satu bintit pun” (4:124). Kata mukmin bererti believer dalam bahasa Inggeris.

3. jodoh masing-masing, iaitu yang jahat bagi yang jahat dan yang baik bagi yang baik. Firman-Nya, “Wanita-wanita yang buruk untuk lelaki-lelaki yang buruk, dan lelaki-lelaki yang buruk untuk wanita-wanita yang buruk; wanita-wanita yang baik untuk lelaki-lelaki yang baik, dan lelaki-lelaki yang baik untuk wanita-wanita yang baik” (24:26), dan,

4. hukum, seperti hukum zina yang berbunyi, “Perempuan yang berzina, dan lelaki yang berzina, sebatlah tiap-tiap seorang daripada mereka dengan seratus sebatan” (24:2), dan hukum bagi pencuri, berbunyi “Dan pencuri lelaki dan pencuri perempuan, potonglah tangan keduanya sebagai satu balasan ke atas apa yang mereka mengusahakan” (5:38).

Hak

Begitulah juga dengan hak. Kaum wanita mempunyai hak yang sama dengan kaum lelaki. Hak yang sama ini diberikan Allah kepada mereka dengan firman-Nya yang berbunyi, “Bagi perempuan ada hak yang baik seperti yang ke atas lelaki” (2:228).

Perbezaan

Namun begitu, mungkin kerana perbezaan pada kromosom antara lelaki dan perempuan membuatkan ada sedikit perbezaan, dan perbezaannya adalah dalam tanggungjawab. Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskannya adalah seperti di bawah:

1. “Tetapi para lelaki mereka adalah satu darjat di atas mereka” (2:228). Darjat di sini, menurut konteksnya, adalah hak suami untuk mengambil balik isteri yang diceraikan apabila mereka ingin membetulkan antara mereka.

2. “Lelaki-lelaki adalah pengurus-pengurus urusan perempuan, dengan sebab Allah melebihkan sebahagian mereka di atas sebahagian yang lain, dan kerana mereka menafkahkan (membelanjakan) daripada harta mereka” (4:34). Kaum lelaki dipertanggungjawabkan sebagai pengurus urusan perempuan kerana kaum lelakilah yang membelanjakan. Kaum lelaki menyara hidup kaum perempuan, dan bukan sebaliknya.

Pada sebuah ayat yang lain pula, Allah menyatakan, “Adalah atas bapa untuk memberi rezeki dan pakaian mereka dengan baik” (2:233). Ayat ini bersangkut hal perceraian; sehingga dalam keadaan begini pun bapa dipertanggungjawabkan menyara anak-anaknya.

3. “Atau jika kedua-duanya bukan lelaki (saksi-saksi dalam perjanjian perdagangan yang tidak bertulis), maka seorang lelaki dan dua orang perempuan, saksi-saksi yang kamu berpuas hati, bahawa jika salah seorang daripada keduanya sesat, yang lagi seorang akan mengingatkannya” (2:282). Pendapat orang berbeza tentang sebab diadakan dua saksi perempuan untuk mengganti seorang saksi lelaki dalam perjanjian perdagangan yang tidak bertulis.

4. “Allah mewasiatkan kamu mengenai anak-anak kamu; bagi lelaki serupa dengan bahagian dua perempuan …” (4:11). Ini adalah bunyi permulaan ayat yang menetapkan bahagian-bahagian yang diterima oleh kaum lelaki dan perempuan dalam pembahagian harta pesaka. Dalam pembahagiannya, kaum lelaki mendapat lebih. Tentulah ada hikmahnya. Namun begitu, wasiat daripada Allah ini hanya ditaati sekiranya si mati tidak membuat sebarang wasiat yang tersendiri. (Sila rujuk 4:11, 4:12, dan 4:176, untuk mengetahui dengan lebih lanjut mengenai pembahagian harta pesaka. Terima kasih.)

Demikianlah beberapa ketidaksamaan antara lelaki dan perempuan yang tersurat di dalam al-Qur’an.

Dipuja

Seperti pada ciptaannya, yang disifatkan Allah sebagai satu daripada ayat-ayat-Nya, atau satu daripada kebesaran-Nya (30:21), kaum wanita memang istimewa. Mereka dipuja, dan ada pula yang dijadikan sebagai:

1. tuhan, atau dewi, atau goddess, dengan dipuja, diseru, dan dijadikan tempat untuk memohon. Firman-Nya, “Tiadalah yang mereka seru selain daripada Dia melainkan perempuan” (4:117). Mungkin ayat ini ditujukan juga kepada sesetengah manusia (lelaki terutamanya) yang mengutamakan perempuan lebih daripada keutamaan kehendak Allah ke atasnya. Lelaki seperti ini bertuhankan perempuan.

2. satu tanda kesenangan hidup di dunia. Firman-Nya, “Dinampakkan indah bagi manusia ialah kecintaan hawa nafsu (syahwat) daripada perempuan-perempuan, dan anak-anak, dan menimbunkan timbunan emas dan perak, dan kuda-kuda yang ditanda, dan binatang ternak, dan tanaman. Itulah kesenangan kehidupan dunia” (3:14).

Begitu kuat sekali pengaruh perempuan ke atas lelaki sehingga Nabi sendiri telah dapat ditewaskan apabila baginda melalaikan hukum Allah dan mengutamakan kehendak isteri-isterinya. Kisah ini diriwayatkan Allah di dalam al-Qur’an berbunyi, “Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagi kamu, untuk mencari kepuasan hati isteri-isteri kamu?” (66:1). Tentulah Nabi sangat sayang pada isteri-isterinya.

Perkahwinan

Perasaan cinta dan pengasihan antara lelaki dan perempuan, yang dikurniakan Allah, berjaya memujuk kebanyakan mereka untuk hidup bersama, dan bersatu, dalam ikatan perkahwinan. Perkahwinan yang disuruh Allah telah menjadi sunnah semua Rasul (13:38), termasuk Nabi Isa.

Lalu kaum wanita menjadi isteri-isteri. Isteri dicari dengan menggunakan harta. Mereka dicari bukan untuk perzinaan, tetapi untuk diikat dalam ikatan perkahwinan. Firman-Nya, “Dihalalkan bagi kamu …. adalah bahawa kamu mencari, dengan menggunakan harta kamu, dalam ikatan perkahwinan, bukan dalam perzinaan …” (4:24).

Manakala bagi lelaki yang tidak berharta tetapi ingin mengahwini perempuan mukmin yang merdeka, mereka akan mengahwini hamba yang mukmin, atau mereka bersabar. Firman-Nya, “Dan sesiapa di antara kamu yang tidak mempunyai kemewahan untuk membolehkan mengahwini wanita-wanita merdeka yang mukmin, maka dia mengambil pemudi kamu yang mukmin yang tangan kanan kamu memiliki …. dan lebih baik bagi kamu jika kamu bersabar” (4:25).

Isteri menjadi teman hidup dan tempat berehat bagi suami. Firman-Nya, “Dan daripada ayat-ayat-Nya ialah bahawa Dia menciptakan untuk kamu, daripada diri-diri kamu sendiri, teman-teman hidup (isteri), supaya kamu berehat pada mereka” (30:21).

Keselesaan, kemesraan, dan kepuasan yang dinikmati bersama antara suami dan isteri dirakamkan lagi di dalam al-Qur’an dengan sebuah ayat yang berbunyi, “Mereka (isteri) adalah pakaian bagi kamu, dan kamu, pakaian bagi mereka” (2:187).

Selain daripada dapat menjauhkan kaum wanita dari kancah perzinaan, perkahwinan juga melepaskan mereka daripada dijadikan teman rahsia (secret lover). Kata “teman rahsia” terbit dua kali di dalam al-Qur’an, iaitu pada ayat 4:25 dan 5:5. Allah melarang menyimpan teman rahsia.

Halal

Orang-orang yang halal dikahwini telah disenaraikan Allah di dalam al-Qur’an. Senarai itu kini disusun seperti di bawah ini:

1. bujang. Firman-Nya, “Kahwinlah orang-orang yang tanpa teman hidup di kalangan kamu” (24:32),

2. janda. Firman-Nya, “Tidak ada kesalahan ke atas kamu mengenai lamaran kepada perempuan-perempuan (janda) yang kamu menawari” (2:235),

3. ahli Kitab. Firman-Nya, “.. dan menikahi wanita-wanita daripada mereka yang diberi al-Kitab sebelum kamu” (5:5),

4. hamba yang mukmin. Firman-Nya, “maka dia mengambil (sebagai isteri) pemudi kamu yang mukmin yang tangan kanan kamu memiliki” (4:25),

5. anak yatim, dan kanak-kanak yang ditindas. Firman-Nya, “… mengenai anak-anak yatim perempuan, yang kepadanya kamu tidak memberikan apa yang ditetapkan untuk mereka, tetapi kamu ingin mengahwini mereka, dan kanak-kanak yang ditindaskan” (4:127),

6. anak tiri daripada isteri yang belum dimasuki. Firman-Nya, “… dan (diharamkan berkahwin) anak-anak tiri perempuan kamu yang dalam penjagaan kamu daripada isteri-isteri kamu yang kamu telah memasuki – tetapi jika kamu belum memasuki mereka, maka tidaklah bersalah ke atas kamu” (4:23),

7. bekas isteri anak angkat. Firman-Nya, “tidak ada kesalahan ke atas orang-orang mukmin dalam hal isteri-isteri anak-anak angkat mereka” (33:37),

8. wanita mukmin yang lari daripada suami yang kafir. Firman-Nya, “… dan tiada kesalahan ke atas kamu untuk mengahwini mereka (yang lari daripada suami yang kafir)” (60:10), dan

9. sepupu, seperti yang disebut di dalam sebuah ayat yang khusus bagi Nabi berbunyi, “Wahai Nabi, Kami telah menghalalkan untuk kamu isteri- isteri kamu yang kamu telah memberikan upah mereka, dan apa yang tangan kanan kamu memiliki, daripada rampasan perang yang Allah memberikan kamu, dan anak-anak perempuan bapa-bapa saudara kamu sebelah bapa kamu dan emak-emak saudara sebelah bapa, bapa-bapa saudara kamu sebelah ibu dan emak-emak saudara sebelah ibu, yang berhijrah bersama kamu, dan mana-mana perempuan yang mukmin, jika dia menyerahkan dirinya kepada Nabi dan jika Nabi menghendaki untuk mengahwininya, yang untuk kamu khasnya, bukan untuk orang-orang mukmin yang lain” (33:50). Kelebihan Nabi dalam memilih isteri ialah dia dibenarkan berkahwin dengan perempuan yang menyerahkan dirinya kepada dia.

Haram

Begitu juga Allah telah menyenaraikan beberapa golongan yang haram dikahwini. Mereka terdiri daripada:

1. yang enggan. Firman-Nya, “tidak halal bagi kamu untuk mewarisi perempuan-perempuan dengan paksa” (4:19),

2. bekas isteri bapa. Firman-Nya, “Dan janganlah mengahwini perempuan-perempuan yang bapa-bapa kamu telah mengahwini” (4:22),

3. ibu bapa, anak-anak sendiri, adik-beradik, ibu atau bapa saudara dan anak-anak saudara. Firman-Nya, “Diharamkan kepada kamu adalah ibu-ibu kamu, dan anak-anak perempuan kamu, dan saudara-saudara perempuan kamu, dan ibu-ibu saudara kamu sebelah bapa dan sebelah ibu kamu, dan anak-anak perempuan saudara lelaki kamu dan saudara perempuan kamu” (4:23),

4. perempuan yang menyusukan, dan yang sesusuan. Firman-Nya, “dan ibu-ibu kamu yang menyusukan kamu, dan saudara-saudara perempuan kamu yang sesusuan” (4:23),

5. mertua, dan anak-anak tiri yang ibunya sudah dimasuki. Firman-Nya, “dan ibu-ibu isteri kamu, dan anak-anak tiri perempuan kamu yang dalam penjagaan kamu daripada isteri-isteri kamu yang kamu telah memasuki” (4:23),

6. menantu. Firman-Nya, “dan isteri anak-anak kamu yang daripada pinggang kamu” (4:23),

7. dua adik-beradik. Firman-Nya. “dan kamu himpun dua perempuan adik-beradik” (4:23),

8. isteri orang. Firman-Nya, “Dan perempuan-perempuan yang bersuami, kecuali apa yang tangan-tangan kanan kamu memiliki” (4:24),

9. penzina. Firman-Nya, “Lelaki yang berzina tidak mengahwini kecuali perempuan yang berzina, atau perempuan yang menyekutukan; dan perempuan yang berzina, tiada yang mengahwininya kecuali lelaki yang berzina, atau lelaki yang menyekutukan; itu diharamkan kepada orang-orang mukmin” (24:3),

10. yang jahat bagi yang baik. Firman-Nya, “Wanita-wanita yang buruk untuk lelaki-lelaki yang buruk, dan lelaki-lelaki yang buruk untuk wanita-wanita yang buruk; wanita-wanita yang baik untuk lelaki-lelaki yang baik, dan lelaki-lelaki yang baik untuk wanita-wanita yang baik” (24:26),

11. yang ditalak (dicerai) sebanyak dua kali. Firman-Nya, “Jika dia menceraikannya (buat kali kedua), dia (isteri) tidak halal baginya sesudah itu sehingga dia berkahwin suami yang lain” (2:230),

12. yang menyekutukan Allah (yang mengadakan selain daripada Allah untuk menetapkan dalam gama). Firman-Nya, “Janganlah mengahwini perempuan-perempuan yang menyekutukan sehingga mereka mempercayai; hamba perempuan yang mukmin adalah lebih baik daripada perempuan yang menyekutukan, walaupun dia menarik hati kamu. Dan janganlah mengahwini orang-orang lelaki yang menyekutukan sehingga mereka mempercayai. Hamba yang mukmin adalah lebih baik daripada orang yang menyekutukan, walaupun dia menarik hati kamu” (2:221), dan akhirnya,

13. yang tidak percaya (kafir) kepada Allah dan Kitab-Nya. Firman-Nya, “Mereka (yang mukmin) adalah tidak halal bagi orang-orang yang tidak percaya, dan tidak juga orang-orang yang tidak percaya halal bagi mereka” (60:10).

Izin

Terdahulu sekali dalam perkahwinan ialah persetujuan daripada pihak diri perempuan itu sendiri. Allah jelas apabila menetapkan ini dengan firman-Nya yang berbunyi, “tidak halal bagi kamu untuk mewarisi perempuan-perempuan dengan paksa” (4:19).

Perkahwinan juga dilangsungkan dengan izin keluarga perempuan. Ini diisyaratkan Allah apabila Dia menentukan iaitu, bagi perempuan yang berstatus hamba pun, sekiranya hendak dikahwini, adalah dengan izin keluarganya. Firman-Nya, “Maka kahwinilah mereka (yang tangan kanan kamu memiliki) dengan izin keluarga mereka” (4:25).

Akad

Izin daripada keluarga perempuan dilafaz seperti pada akad nikah. Sebagai contoh akad daripada al-Qur’an ialah lafaz bapa mertua Nabi Musa tatkala dia menyerahkan anaknya kepadanya (Musa) untuk dikahwinkan, berbunyi “Aku menghendaki untuk mengahwinkan kamu dengan seorang daripada dua anak perempuanku ini, dengan kamu mengambil upah daripada aku selama lapan tahun” (28:27). Turut disebut di dalam lafaznya ialah mas kahwin, yang berupa perkhidmatan Nabi Musa kepadanya dalam tempoh masa yang ditentukan. Mas kahwin yang begini rupa adalah kerana Nabi Musa pada ketika itu seorang fakir.

Hadiah

Perempuan yang dikahwini diberi hadiah, atau mas kahwin, atau upah (menurut kata al-Qur’an), atau seperti kata yang selalu disebut orang Melayu, iaitu hantaran. Hantaran adalah suatu ketentuan menurut hukum Allah (4:24), dan diberi kepada semua perempuan yang dikahwini, termasuk kaum hamba (4:25).

Mas kahwin adalah sesuatu hadiah yang rela. Firman-Nya, “Dan berilah perempuan-perempuan mas kahwin mereka sebagai satu hadiah yang rela, tetapi jika mereka, dengan suka hati, menawarkan kepada kamu sesuatu daripadanya, maka makanlah ia dengan selera yang sihat” (4:4).

Muafakat

Keharmonian hidup sepasang suami-isteri adalah dengan adanya muafakat. Mereka berpakat dengan baik, seperti dalam urusan keluarga. Allah menunjukkan suatu muafakat dalam rumah tangga antara suami dan isteri dengan ayat berbunyi, “Para ibu akan menyusukan anak-anak mereka dua tahun genap, bagi orang yang menghendaki untuk menyempurnakan penyusuan. Adalah atas bapa untuk memberi rezeki dan pakaian mereka dengan baik …. Tetapi jika keduanya menghendaki, dengan persetujuan bersama dan perundingan, untuk menyusukan, maka tidaklah ada kesalahan ke atas mereka. Dan jika kamu berkehendak untuk mencari penyusu bagi anak-anak kamu, tidaklah bersalah ke atas kamu asal sahaja kamu menyerahkan apa yang kamu beri dengan baik; dan takutilah Allah, dan ketahuilah bahawa Allah melihat apa yang kamu buat” (2:233).

Suatu yang menarik mengenai ayat tersebut ialah ia berkontekskan penceraian. Sehingga dalam krisis begini pun Allah menyuruh supaya berunding dengan baik antara (bekas) suami dan isteri!

Atau, dalam keadaan marah dan benci, yang boleh mengakibatkan perceraian, juga disuruh-Nya bergaul dengan baik. Mungkin apa yang dibenci itu adalah suatu yang baik. Firman-Nya, “Bergaullah dengan mereka dengan baik; atau jika kamu membenci mereka, mungkin kamu membenci sesuatu padahal Allah membuatkan padanya banyak kebaikan” (4:19).

Bercampur

Kenikmatan hidup sepasang suami-isteri memuncak apabila mereka bercampur dengan baik. Masing-masing adalah pakaian bagi satu sama lain. Pakaian ini juga dipakai pada malam bulan Ramadan. Firman-Nya, “Dihalalkan bagi kamu, pada malam puasa, bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagi kamu, dan kamu, pakaian bagi mereka” (2:187).

Digambarkan lagi kenikmatan ini dengan firman-Nya yang berbunyi, “Perempuan-perempuan kamu adalah tanaman bagi kamu; maka datangilah tanaman kamu seperti yang kamu mengkehendaki” (2:223).

Namun, percampuran ini ada hadnya. Malah, ia diharamkan pada beberapa keadaan yang tertentu. Keadaan-keadaan itu adalah:

1. apabila bertekun di masjid, seperti pada malam bulan Ramadan. Firman-Nya, “dan janganlah mencampuri mereka sedang kamu bertekun (iktikaf) di masjid” (2:187),

2. dalam Haji. Firman-Nya, “sesiapa yang menetapkan untuk Haji padanya, tidak boleh bercampur dengan isterinya” (2:197),

3. semasa dalam haid. Firman-Nya, “maka hendaklah kamu menjauhkan daripada perempuan-perempuan semasa dalam haid, dan janganlah mendekati mereka sehingga mereka bersih. Apabila mereka telah membersihkan diri-diri mereka, maka datangilah mereka sebagaimana Allah memerintahkan kamu” (2:222). Tidak terdapat larangan lain bagi perempuan yang dalam haid di dalam al-Qur’an; tidak disebut-Nya mengenai larangan mendirikan solat, berpuasa, atau menyentuh dan membaca al-Qur’an.

4. memantangkan diri selama empat bulan. Selepas tempoh ini percampuran diharamkan, dan mereka dianggap seperti bercerai. Firman-Nya, “Bagi orang-orang yang bersumpah memantangkan diri daripada perempuan-perempuan mereka, mereka menunggu empat bulan. Jika mereka kembali, maka sesungguhnya Allah Pengampun, Pengasih. Tetapi jika mereka memutuskan untuk bercerai, maka sesungguhnya Allah Mendengar, Mengetahui.” (2:226-227), dan akhirnya,

5. menzihar isteri (berkata kepada isteri, “Kamu, padaku, adalah seperti punggung ibuku”), dan tidak pula mengadakan tebusan apabila ditarik balik apa yang telah dikatakan. Percampuran diharamkan dalam situasi seperti ini. Firman-Nya, “Dan orang-orang yang menzihar isteri-isteri mereka, kemudian mereka menarik kembali apa yang mereka telah mengatakan, mereka akan memerdekakan seorang hamba sebelum keduanya menyentuh satu sama lain … Tetapi sesiapa yang tidak mendapatkannya, maka hendaklah dia berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya menyentuh satu sama lain. Dan jika sesiapa yang tidak boleh, maka hendaklah dia memberi makan enam puluh orang miskin” (58:3-4).

Khatan

Menyentuh sedikit mengenai suatu yang berkaitan, yang agak sensitif, iaitu alat kelamin. Alat ini, baik bagi perempuan mahupun lelaki, tidak disuruh Allah agar ia dicacatkan, atau dikhatan. Justeru pendapat manusia berbeza mengenainya. Ramai tampil ke hadapan dengan hujah masing-masing. Ada golongan yang bersetuju, dan ramai pula yang menolak. Sungguh menarik perdebatan mengenainya. Para doktor turut memberi sumbangan dalam bentuk hasil kajian. Begitulah banyaknya artikel yang tersimpan di internet (lihat circumcision) mengenai khatan. Kebanyakan penyumbang didapati tidak bersetuju dengan khatan, terutamanya bagi perempuan, dan mereka menggunakan istilah mutilation (mencacatkan) bagi amalan ini. Lagipun, sekiranya hendak direnungkan ayat-ayat al-Qur’an mengenai ciptaan-Nya, maka terserlahlah dua buah ayat di mana Allah telah menyatakan yang Dia “mencipta segala sesuatu dengan baik” (32:7), dan dengan kata yang tegas berbunyi “Tidak ada pertukaran dalam ciptaan Allah. Itulah agama yang betul; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” (30:30).

Poligami

Poligami adalah halal. Amalan ini bertujuan untuk berlaku adil terhadap anak-anak yatim. Firman-Nya, “Jika kamu takut bahawa kamu tidak akan berlaku adil terhadap anak-anak yatim, maka kahwinilah perempuan-perempuan yang nampak baik bagi kamu, dua, dan tiga, dan empat” (4:3). Maksud kata “perempuan-perempuan” di sini ialah ibu-ibu, atau waris, atau penjaga anak-anak yatim tersebut.

Ayat tersebut seterusnya memberi nasihat, atau amaran, berbunyi “tetapi jika kamu takut bahawa kamu tidak akan berlaku adil, maka satu sahaja … ia lebih dekat bagi kamu untuk tidak membuat aniaya”. Ketidakadilan dalam poligami mengakibatkan penganiayaan ke atas kaum wanita. Allah benci penganiayaan.

Namun, ketidakadilan terhadap isteri-isteri tetap berlaku dalam poligami. Firman-Nya, “Kamu tidak akan boleh berbuat adil di antara isteri-isteri kamu, walaupun kamu ingin sekali” (4:129). Maka, jauhi amalan poligami!

Cara berbuat adil pada isteri-isteri pula ditunjukkan Allah di dalam ayat yang sama, berbunyi “maka janganlah kamu condong dengan seluruh kecondongan sehingga kamu meninggalkannya seperti tergantung” (4:129). “Gantung tak bertali” kerana suami condong pada madu. Itu sering berlaku. Ia dilarang Allah.

Pertelingkahan

Sedangkan lidah lagi tergigit, ini pulak suami isteri! Demikian kata dalam sebuah lagu Melayu evergreen. Pertelingkahan antara suami dan isteri dilalui dengan baik, iaitu dengan cara berunding dan bergaul dengan baik, seperti yang telah disebut di bawah tajuk Muafakat. al-Qur’an memberi dua lagi contoh pertelingkahan, dan cara-cara menyelesaikannya:

1. menuduh melakukan zina. Bagi tuduhan ini Allah menunjukkan cara penyelesaiannya yang berbunyi, “Dan orang-orang yang membalingkan kepada (menuduh) isteri-isteri mereka tanpa saksi-saksi, kecuali diri-diri mereka sendiri, maka kesaksian seorang daripada mereka ialah menyaksikan dengan Allah empat kali, bahawa dia termasuk orang-orang yang benar. Dan yang kelima, bahawa laknat Allah adalah ke atasnya, jika dia termasuk di antara pendusta-pendusta. Ia akan menghindarkannya (isteri) daripada azab, jika dia (isteri) menyaksikan dengan Allah empat kali bahawa dia (suami) adalah di antara pendusta-pendusta. Dan yang kelima, bahawa kemurkaan Allah adalah ke atasnya (isteri) jika dia (suami) termasuk orang-orang yang benar” (24:6-9).

2. kederhakaan suami atau isteri. Bagi kederhakaan suami (yang hampir tidak disebut orang mengenai kewujudannya), Allah menjelaskan dengan ayat yang berbunyi, “Jika seorang perempuan takut akan kederhakaan, atau palingan daripada suaminya, tidaklah bersalah ke atas keduanya jika mereka membetulkan di antara mereka; dan penyelesaian adalah lebih baik; dan jiwa condong kepada kehalobaan” (4:128).

Bagi isteri yang derhaka pula, tindakan yang diambil oleh suami adalah seperti pada ayat yang berbunyi, “dan mereka yang kamu takut akan menjadi derhaka, tegurkanlah mereka, dan asingkanlah mereka daripada tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Jika mereka kemudiannya mentaati kamu, maka janganlah mencari-cari sebarang jalan terhadap mereka” (4:34).

Perhatian tertumpu pada kata pukul, iaitu memukul isteri yang derhaka yang disebut di dalam ayat ini. Beberapa persoalan telah timbul. Pelbagai tafsiran telah diketengahkan. Akan tetapi, terdapat satu penjelasan yang ingin diutarakan di sini mengenai kata asal wadribu (pukul) yang terakam di dalam ayat tersebut. Sebuah terjemahan, AL-QUR’AN a contemporary translation, oleh Ahmed Ali (1984), mencatat di nota kaki (halaman 78) berbunyi antara lain ialah wadribu , in the original, translated here ‘have intercourse’ … see Raghib, Lisan al-‘Arab and …. daraba metaphorically means to have intercourse, and quote the expression darab al-fahl an-naqah, ’the stud camel covered the she-camel,’ which is also quoted by Lisan al-‘Arab. It cannot be taken here to mean ‘to strike them (women).’”

Maka pukul di sini adalah seperti pada kata halus, bercampur, masuk, atau sentuh, bagi kata have intercourse. Lantas, isteri-isteri yang derhaka pun harus dicampuri, bukan disepak, atau ditendang, atau ditumbuk, atau dipukul dengan tuala, kain dan sebagainya.

Pendamai

Pertelingkahan suami-isteri didamaikan oleh wakil kedua-dua buah pihak sebelum berlaku perceraian. Firman-Nya, “Jika kamu takut akan perpecahan antara keduanya, bangkitkanlah seorang pendamai daripada keluarga lelaki, dan daripada keluarga perempuan, seorang pendamai. Jika mereka menghendaki untuk memperbetulkan, Allah akan menyelesaikan pertelingkahan mereka” (4:35). Dewasa ini, para peguamlah pendamai yang dianggap paling adil.

Sekiranya cara yang Allah tunjukkan diguna oleh pihak-pihak tertentu, maka wanita-wanita Islam yang dizalimi suami-suami mereka dapat dilepaskan daripada kezaliman itu dengan tanpa menunggu lama dalam penderitaan.

Nabi

Nabi juga telah mengalami krisis rumah tangga. Krisis itu, menurut al-Qur’an (66:3), berpunca dari salah seorang daripada isteri-isterinya yang membawa mulut, setelah Nabi memberitahunya sesuatu rahsia. Kemudian, dua daripada isteri-isterinya bergabung untuk menentangnya. Lantaran Allah turunkan amaran kepada mereka, dan sebahagian daripadanya berbunyi, “Mungkin, jika dia (Nabi) menceraikan kamu, Pemeliharanya (Tuhannya) akan menukarkan dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang muslim, yang mukmin, yang patuh, yang bertaubat, yang warak, yang berpergian, yang janda, dan yang dara” (66:5). Dalam krisis seperti ini jua diingatkan-Nya tentang perceraian. Diingatkan-Nya jua tentang adanya wanita-wanita lain yang lebih baik daripada isteri-isteri Nabi.

Penceraian

Istilah talak satu, seperti yang lazim digunakan, sebenarnya bermaksud sekali cerai, kerana kata talak dalam bahasa Arab bermakna penceraian. Maka, dua kali bercerai dengan pasangan yang sama adalah talak dua. Oleh itu, lafaz talak tiga pada penceraian yang pertama adalah hanya karut.

Apabila perceraian tidak dapat dielakkan lagi, maka Allah akan memberi pertolongan kepada kedua-dua pihak. Firman-Nya, “Tetapi jika keduanya bercerai, Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing daripada keluasan-Nya” (4:130). Allah memahami.

Allah amat memahami penderitaan yang dialami, lalu direstui-Nya perceraian. Kemudian, Dia didapati pula menolong kedua-dua belah pihak. Akan tetapi, bagaimana pula dengan banyaknya kes-kes cerai yang tidak diceraikan, atau digantung sekian lama? Tidakkah difahami penderitaan yang dilalui? Tidakkah kedua-dua belah pihak perlu ditolong? Tidak, sebaliknya ada pula orang yang melafazkan cerai didenda seribu ringgit!

Penceraian yang dibenarkan adalah sebanyak dua kali. Firman-Nya, “Penceraian (talak) adalah dua kali; kemudian menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik … Jika dia menceraikannya, dia (isteri) tidak halal baginya sesudah itu sehingga dia berkahwin suami yang lain. Kemudian jika dia (suami baru) menceraikannya, maka tidaklah bersalah ke atas mereka untuk kembali kepada satu sama lain, jika mereka menyangka bahawa mereka akan melakukan had-had Allah” (2:229-230). Ini kes “cina buta”.

Idah

Dalam penceraian ada tempoh, atau idah (masa menanti). Syarat-syarat dalam idah telah dihuraikan Allah dengan empat ayat yang berikut:

1. “Perempuan-perempuan yang diceraikan akan menunggu sendiri selama tiga haid, dan tidaklah halal bagi mereka untuk menyembunyikan apa yang Allah menciptakan di dalam rahim mereka jika mereka mempercayai Allah dan Hari Akhir. Pada masa itu suami-suami mereka adalah lebih berhak untuk mengembalikan mereka jika mereka menghendaki untuk memperbetulkan” (2:228),

2. “Apabila kamu menceraikan perempuan-perempuan, dan mereka sampai tempoh mereka, maka tahanlah mereka dengan baik, atau lepaskanlah mereka dengan baik; janganlah menahan mereka dengan paksa untuk mencabuli; sesiapa yang berbuat demikian itu menzalimi dirinya sendiri. Janganlah mengambil ayat-ayat Allah dalam olok-olokan” (2:231),

3. “Apabila kamu menceraikan perempuan-perempuan, lalu mereka sampai tempoh mereka, janganlah menghalangi mereka daripada mengahwini suami-suami mereka, apabila mereka telah saling mempersetujui di antara mereka, dengan baik. Dengan ini ditegurkan sesiapa di antara kamu yang mempercayai Allah, dan Hari Akhir. Itu lebih suci dan lebih bersih bagi kamu; Allah mengetahui, dan kamu tidak mengetahui” (2:232),

Saksi

4. “Kemudian, apabila mereka telah sampai tempoh mereka, tahanlah mereka dengan baik, atau berpisahlah daripada mereka dengan baik. Dan adakanlah saksi, dua orang yang mempunyai keadilan di kalangan kamu; dan lakukanlah kesaksian kepada Allah Sendiri. Dengan ini ditegurkan sesiapa yang mempercayai Allah dan Hari Akhir. Dan sesiapa bertakwa kepada Allah, Dia membuatkan untuknya satu jalan keluar” (65:2).

Nabi sendiri mungkin telah menceraikan isteri-isterinya, dan beliau juga disuruh Allah agar menjagai tempoh dan syarat-syaratnya. Firman-Nya, “Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan perempuan-perempuan, maka ceraikanlah mereka apabila mereka sampai tempoh mereka. Hitunglah tempoh itu, dan takutilah Allah, Pemelihara kamu. Janganlah mengeluarkan mereka dari rumah-rumah mereka, dan jangan juga membiarkan mereka keluar, kecuali mereka melakukan kesumbangan yang nyata. Itulah hudud (had-had) Allah; sesiapa mencabuli hudud Allah, dia menzalimi dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui mungkin setelah itu Allah mengadakan perkara yang baru” (65:1).

Namun, tempoh bagi perempuan yang putus haid, dan perempuan yang mengandung, adalah berbeza daripada perempuan lain. Firman-Nya, “Bagi perempuan-perempuan kamu yang berputus asa daripada haid selanjutnya, jika kamu ragu-ragu, maka tempoh mereka ialah tiga bulan, dan mereka yang tidak datang haid hingga kini. Dan mereka yang hamil, tempoh mereka ialah apabila mereka melahirkan kandungan mereka. Sesiapa bertakwa kepada Allah, Dia akan membuatkan untuknya, daripada perintah-Nya, yang mudah” (65:4).

Sementara idah bagi wanita-wanita yang kematian suami ditetapkan Allah lebih lama daripada yang dikenakan ke atas wanita-wanita yang diceraikan. Firman-Nya, “Dan orang-orang di antara kamu yang mati dan meninggalkan isteri-isteri, mereka akan menunggu sendiri selama empat bulan dan sepuluh hari” (2:234).

Peruntukan

Wanita-wanita yang diceraikan diberi peruntukan, tempat tinggal, dan nafkah, sementara harta yang telah diberi kepada mereka tidak diambil balik. Dan mereka tidak ditekan untuk menyusahkan mereka. Ayat-ayat Allah yang berikut menjelaskannya:

1. “Tidak halal bagi kamu untuk mengambil daripada apa yang kamu telah memberikan mereka (isteri) kecuali keduanya takut bahawa mereka tidak dapat melakukan had-had Allah. Jika kamu takut mereka tidak dapat melakukan had-had Allah, maka tidaklah bersalah ke atas mereka untuk dia (isteri) menebus dengannya. Itulah had-had Allah; janganlah mencabulinya. Sesiapa mencabuli had-had Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim” (2:229).

Terdapat satu lagi ayat mengenai larangan mengambil balik harta yang telah diberi kepada isteri yang diceraikan, dan ayat itu berakhir dengan satu pertanyaan berbunyi, “Apa, adakah kamu mengambilnya dengan cara umpat, dan dosa yang nyata?” (4:20).

2. “Bagi wanita-wanita yang diceraikan, diberi peruntukan dengan baik sebagai suatu kewajipan bagi orang-orang yang bertakwa” (2:241).

3. “Tempatkanlah mereka di mana kamu bertempat tinggal, menurut kemampuan kamu, dan janganlah menekan mereka untuk menyempitkan keadaan mereka. Jika mereka mempunyai kandungan, nafkahkanlah mereka sehingga mereka melahirkan kandungan mereka. Jika mereka menyusukan untuk kamu, berilah mereka upah mereka, dan bermuafakatlah di antara kamu dengan baik. Jika kamu berdua menemui kesukaran, maka perempuan yang lain akan menyusukannya” (65:6).

Ayat tersebut disusuli sebuah ayat yang menjelaskan mengenai nafkah, iaitu diberi mengikut kemampuan masing-masing, dan dalam apa keadaan jua pun, sama ada senang atau susah. Ia berbunyi, “Hendaklah orang yang mempunyai keluasan menafkahkan menurut keluasannya. Bagi orang yang rezekinya disempitkan kepadanya, maka hendaklah dia menafkahkan daripada apa yang Allah memberinya. Allah tidak membebani sesuatu jiwa melainkan dengan apa yang Dia memberikannya. Sungguh, Allah akan membuatkan, setelah kesukaran, yang mudah” (65:7).

Luar biasa

Al-Qur’an ada juga menyebut mengenai beberapa cara bercerai yang saya anggap luar biasa. Sememangnya ia, seperti kata-Nya, adalah sebuah kitab yang cukup jelas, atau terperinci, apabila ia turut menyebut tentang segala kemungkinan, seperti apa yang mungkin berlaku, bagi sesuatu perkara. Bagi penceraian, disebut-Nya empat, iaitu:

1. Memantangkan diri daripada menyentuh pasangan:

Ini mungkin berlaku dalam keadaan marah dan benci pada pasangan. Sekiranya sumpah itu berpanjangan, iaitu lebih daripada empat bulan, maka pasangan suami-isteri itu adalah seperti dalam keadaan bercerai. Firman-Nya, “Bagi orang-orang yang bersumpah memantangkan diri daripada perempuan-perempuan mereka, mereka menunggu empat bulan. Jika mereka kembali, maka sesungguhnya Allah Pengampun, Pengasih. Tetapi jika mereka memutuskan untuk bercerai, maka sesungguhnya Allah Mendengar, Mengetahui” (2:226-227). Pasangan bercerai setelah berpantang empat bulan.

2. Belum sentuh:

Bagi yang mungkin bercerai tanpa menyentuh pasangannya, Allah menurunkan tiga ayat yang menggariskan syarat-syaratnya.

i. “Tidak ada kesalahan ke atas kamu jika kamu menceraikan perempuan-perempuan sedang kamu belum menyentuh mereka, dan tidak juga menetapkan sebarang bahagian untuk mereka; namun demikian, buatlah peruntukan untuk mereka – orang yang mewah menurut kemampuannya, dan orang yang miskin menurut kemampuannya – satu peruntukan dengan baik; satu kewajipan bagi orang-orang yang berbuat baik” (2:236),

ii. “Dan jika kamu menceraikan mereka sebelum kamu menyentuh mereka, dan kamu telah pun menetapkan bagi mereka bahagian yang ditentukan, maka berilah setengah daripada apa yang kamu telah menetapkan, kecuali jika mereka memaafkan, atau dia memaafkan yang di tangannya ikatan perkahwinan; bahawa kamu memaafkan adalah lebih dekat dengan takwa. Janganlah melupakan pemberian sesama kamu. Sesungguhnya Allah melihat apa yang kamu buat” (2:237), dan akhirnya,

iii. “… apabila kamu mengahwini perempuan-perempuan yang mukmin, dan kemudian menceraikan mereka sebelum kamu menyentuh mereka, tiadalah tempoh (idah) bagi kamu untuk mengira terhadap mereka; maka buatlah peruntukan bagi mereka, dan lepaskanlah mereka dengan pelepasan yang manis” (33:49).

3. Zihar:

Seperti yang telah dimaklumkan, di bawah tajuk Bercampur, menzihar isteri bermaksud menyifatkan isteri sebagai punggung ibunya (suami) sendiri. Pada hemat saya, bahagian anggota yang disebut itu adalah suatu petunjuk bagi bahagian-bahagian sulit ibu yang lain, yang juga tidak boleh disamakan dengan isteri, atau suami. Kata-kata ini hendaklah ditarik balik.

Sekiranya kata-kata itu ditarik balik, maka Allah mengadakan tebusan sebelum pasangan itu menyentuh satu sama lain. Tebusannya ialah memerdekakan seorang hamba, atau sesiapa yang tidak mendapatkannya, maka dia berpuasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan enam puluh orang miskin (58:3-4).

Pasangan ini berada dalam keadaan bercerai sekiranya kata-kata itu tidak ditarik balik, atau tebusannya tidak dilakukan.

4. Isteri lari:

Dengan cara automatik, apabila isteri lari kepada orang-orang yang tidak percaya (kafir kepada Allah dan Kitab-Nya), maka gugurlah “talak satu”. Firman-Nya, “Dan jika seseorang daripada isteri-isteri kamu lari daripada kamu kepada orang-orang yang tidak percaya, dan kemudian kamu membalas, maka berilah orang-orang yang isteri-isteri mereka telah pergi, yang serupa dengan apa yang mereka telah menafkahkan. Dan takutilah Allah, yang kepada-Nya kamu mukmin (mempercayai)” (60:11). Dalam kes ini, tersebut mengenai bayaran balik kepada bekas suami atas apa yang dia telah menafkahkan (membelanjakan) kepada isterinya.

Kematian

Perpisahan yang paling menyedihkan, atau tahap stress yang tertinggi sekali, ialah apabila teman hidup meninggal dunia. Berpisahlah pasangan suami-isteri itu buat sementara waktu, menunggu Akhirat, di mana mereka akan bersatu semula selama-lamanya. Isteri yang kematian suaminya ditinggalkan peruntukan untuk setahun, dan peruntukan ini ditulis di dalam wasiat suami. Perintah Allah mengenai ini berbunyi, “Dan orang-orang di antara kamu yang mati dan meninggalkan isteri-isteri, hendaklah mereka membuat wasiat untuk isteri-isteri mereka, peruntukan untuk setahun tanpa mengeluarkannya; tetapi jika mereka keluar, maka tidaklah bersalah ke atas kamu mengenai apa yang mereka buat pada diri-diri mereka sendiri dengan baik” (2:240).

Baik

Sememangnyalah, orang-orang yang takut kepada Allah akan berusaha bersungguh-sungguh untuk menjadi orang-orang yang salih, atau orang-orang yang baik. Mengenai wanita-wanita yang disifatkan baik, Allah telah menjelaskannya dengan ayat berbunyi, “Wanita-wanita yang salih (baik) ialah yang patuh, yang menjaga yang rahsia kerana Allah menjaganya” (4:34).

Allah seterusnya menyebut di dalam al-Qur’an mengenai sifat-sifat wanita yang baik, yang antaranya, adalah yang muslim, mukmin, benar, sabar, merendah hati, bersedekah, berpuasa, mengingat Allah dengan banyak, menyuruh yang baik, melarang yang mungkar, melakukan solat, memberi zakat, atau yang membuat kerja-kerja kebaikan. Wanita-wanita ini tentu menemui kebahagian.

Dituduh

Tersebut juga di dalam al-Qur’an mengenai wanita-wanita yang sudah berkahwin, lagi baik, atau yang mukmin, tetapi kerana kelalaian mereka, mereka dituduh yang bukan-bukan dan menjadi bahan tomahan orang lain. Orang-orang yang melakukan kejahatan terhadap wanita-wanita tersebut dilaknati di dunia dan di akhirat. Firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang membalingkannya (menuduh) kepada wanita-wanita yang berkahwin, yang lalai, tetapi mukmin, akan dilaknati di dunia dan di akhirat; dan bagi mereka, azab yang besar” (24:23).

Amaran daripada Allah yang seterusnya mengenai perbuatan memburuk-burukkan wanita yang baik berbunyi, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang lelaki mukmin, dan orang-orang perempuan mukmin, tanpa apa yang mereka mengusahakan, mereka memikul pengumpatan dan dosa yang nyata” (33:58). Begitulah kedudukan orang-orang yang baik di sisi Allah.

Akhirat

Kebahagian hidup bersama antara suami dan isteri di dunia ini akan disambung semula pada Hari Akhirat, di mana mereka akan bersatu sekali lagi, untuk duduk kekal dalam kebahagian. Inilah idaman yang sebenarnya bagi suami dan isteri, iaitu kebahagian bersama di dunia dan di akhirat. Allah menyebut mengenai kebahagian mereka di syurga di dalam beberapa ayat al-Qur’an, dan antaranya berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang Jannah (syurga) pada hari ini sibuk dalam kegembiraan mereka. Mereka dan isteri-isteri mereka bersandar di atas sofa di tempat teduh. Bagi mereka di dalamnya buah-buahan, dan bagi mereka apa yang mereka minta. “Salam” ialah perkataan daripada Pemelihara (Tuhan) yang Pengasih” (36:55-58).

Sepertimana syurga itu kekal bagi orang-orang yang baik, begitulah juga dengan neraka bagi orang-orang yang jahat. Mereka yang dimasukkan ke dalam neraka tidak dikeluarkan darinya, walaupun mereka melafazkan persaksian terhadap Allah dan Rasul semasa mereka hidup di dunia untuk menunjukkan keislaman mereka. Lafaz sahaja tidak mencukupi. Syurga tidak semurah itu.

Doa

Kebahagian hanya datang daripada Allah, maka mohonlah kepada-Nya. Allah Yang Pemurah, dan Yang Pengasih, telah mengajar suami dan isteri sebuah doa untuk kebahagian mereka sekeluarga, dan untuk mereka mendahului dalam ketakwaan, berbunyi “Wahai Pemelihara kami, berilah kami kegembiraan daripada isteri-isteri (atau, suami) kami, dan keturunan kami, dan buatlah kami ketua bagi orang-orang yang bertakwa (takut kepada Tuhan)” (25:74). Mudah-mudahan dengannya, dan dengan usaha yang ikhlas lagi bersungguh-sungguh dalam mentakuti-Nya, para wanita, yang di dalam Islam sebenar, berbahagia hidup di dunia dan di akhirat