Teknik Baru Atasi Katarak
Gizi.net – Apa rasanya bermata katarak? Abu Bakar, kakek lima cucu, masih ingat betapa katarak begitu mengganggu. ”Seperti melihat di antara kepulan asap atau menatap objek yang terselubung kabut,” celetuknya. Gangguan penglihatan Abu Bakar baru berakhir setelah ia mengumpulkan dana plus keberanian untuk menjalani operasi katarak. Ia lega begitu mengetahui prosesnya sebentar, kurang dari 15 menit. ”Setelah itu, saya bisa langsung pulang dan dapat bekerja ringan,” kenang pengusaha garmen ini. Teknik operasi yang dijalani Abu Bakar adalah phacoemulsification. Teknik ini memungkinkan Abu Bakar mendapatkan kenyamanan proses operasi. Namun, dokter yang mengoperasi harus berlomba dengan waktu. Tenggatnya 10 sampai 15 menit mesti selesai. Lebih dari itu, efek anestesi (pembiusan) akan berakhir. Jika operasi melewati tenggat waktu, pasien terpaksa dibius total.
Teknik tersebut dikenal dengan istilah teknik sayatan kecil. Disebut demikian karena phacoemulsification memperkecil ruang yang diperlukan untuk mengeluarkan katarak serta memasukkan lensa tanam yang sifatnya permanen. ”Dulu dokter spesialis mata membutuhkan sobekan besar sekitar 12 mm sampai 15 mm, sekarang cuma 2,7 mm,” jelas dr Zulhafdi Muchni SpM dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta.
Panjang sobekan bisa diminimalisasi lantaran lensa tanam yang digunakan memiliki keunggulan tersendiri. Lensa tanam tersebut dapat dilipat dan baru dibentangkan lagi saat sudah berada di dalam mata. ”Sedangkan, kataraknya dihancurkan dengan gelombang ultrasonik lalu disedot dengan alat vakum,” papar Zulhafdi.
Phacoemulsification menggunakan anestesi lokal dengan cara meneteskan cairan bius ke bola mata. Teknik ini diklaim dapat mengurangi risiko infeksi dan waktu pemulihan yang lebih cepat. ”Di samping itu, hasil penglihatan juga lebih baik,” imbuh dokter bedah phaco ini. Dengan phacoemulsification, penderita tidak perlu menunggu katarak menjadi ‘matang’. Kapanpun diinginkan, operasi bisa dilangsungkan. ”Disebut matang jika kekeruhan lensa sudah tebal.”
Namun, teknik tersebut tidak menjamin semua penderita katarak pulih penglihatannya. Sebab, keberhasilan operasi terkait erat dengan kondisi umum penderita. Penyakit lain yang diidap penderita dapat memengaruhi keberhasilan operasi. ”Begitu pula dengan kondisi retina dan saraf mata,” kata Zulhafdi saat peresmian Klinik Mata dan Pusat Katarak RS Pondok Indah, belum lama ini.
Sebelum dioperasi, penderita katarak akan dievaluasi kondisi kesehatan mata dan kesehatan umumnya. Luas lapang pandang diukur dan air mata dites. Lantas, lensa tanamnya juga diukur.
Setelah operasi, pasien diminta untuk kontrol tiga kali dalam seminggu. Pada pekan berikutnya, kontrol cukup satu kali seminggu. Lalu dilanjutkan kontrol sebulan sekali. ”Dalam satu minggu umumnya pasien sudah sembuh.” Dalam tahap penyembuhan, pasien boleh bekerja sebatas aktivitas ringan. Namun, harus di ruangan yang bersih. Disarankan pula untuk tidak berenang, berolahraga berat, atau sering mengucek mata.
Semua akan katarak
Semua orang akan mengalami katarak. Hanya saja, pada orang yang sehat, kekeruhan lensa berjalan lambat. ”Karena itu, jangan sampai sakit gula atau hipertensi dan jangan konsumsi obat sembarangan,” saran dr Ratna Sitompul SpM(K) dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Kasus katarak lebih banyak dialami lansia (lanjut usia). Hampir 90 persen lansia berusia di atas 70 tahun mengalami katarak. ”Selain karena faktor usia, katarak juga disebabkan oleh persoalan metabolisme, trauma, cacat bawan lahir, terlalu lama terpapar sinar ultraviolet, penggunaan obat steroid tertentu, penyakit lain, atau keturunan,” ucap wakil ketua kolegium Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) ini.
Lantaran lebih banyak menyerang orang berusia lanjut, keluarga penderita dan dokter harus ekstra hati-hati dalam memberi pengertian tentang perlunya operasi. Apalagi, secara psikologis, orangtua cenderung takut mengambil risiko, sensitif, dan emosional. Kebanyakan juga tidak siap menerima konsep dan teknologi baru.
Katarak merupakan penyebab paling dominan (54 persen) penyebab kebutaan pada orang lanjut usia. Jika sampai pada kondisi tersebut, kualitas hidup dipastikan terganggu. Sebab, 83 persen informasi didapatkan dari penglihatan. Kendati teknologi canggih operasi katarak sudah bisa dinikmati, belum banyak orang yang dapat dipulihkan penglihatannya. Biaya masih menjadi kendala utama. Di Indonesia, setiap tahunnya terdapat sekitar 80 ribu pasien yang menjalani operasi katarak, dengan penumpukan kasus mencapai 210 ribu per tahun.
Hal itu juga disebabkan oleh pelayanan kesehatan mata yang belum banyak. Letak geografis yang sulit dijangkau tenaga kesehatan juga menjadi kendala. Jumlah dokter spesialis mata pun masih sedikit.
Sumber: http://www.republika.co.id ![]()


